Oleh Syaifulloh
Penikmat Pendidikan
Beberapa waktu lalu, saya menghadiri sebuah pertemuan pendidikan internasional bertempat di Global Jaya School, salah satu sekolah International.
Pertemuan ini dihadiri para praktisi pendidikan berafiliasi dengan kurikulum International Baccalaureate (IB) dari dalam dan luar negeri.
Momen penting ini sebagai ajang untuk berbagi wawasan tentang pendidikan holistik.
Acara tiga hari ini menghadirkan ahli pendidikan dari berbagai negara, yang membahas implementasi kurikulum IB dengan fokus pada pengembangan karakter siswa.
Salah satu poin utama yang mengemuka adalah peran deep thinking sebagai alat utama menuju deep learning, sebuah pendekatan yang mendorong siswa membangun pemahaman konseptual yang mendalam dan relevan.
Mengenal Deep Thinking.
Menurut Janet J. Broughton dalam Deep Thinking: What Mathematics Can Teach Us about the Mind, berpikir mendalam adalah cara pikiran berfungsi secara alami—aktif, dinamis, dan kreatif.
Pikiran tidak perlu “dinyalakan” karena sudah hadir dalam kondisi menyala, sebagaimana terlihat pada bayi yang mulai memahami dunia secara konseptual.
Penelitian tentang perkembangan sistem konseptual bayi menunjukkan bahwa deep thinking adalah proses mendasar yang memungkinkan individu mengenali pola dan membentuk pemahaman yang kuat.
Istilah lain untuk ini adalah “berpikir perkembangan,” yang menekankan sifat alami dan progresif dari proses berpikir. Dalam konteks pendidikan, deep thinking menjadi landasan untuk mendorong siswa berpikir kritis, menganalisis informasi, dan membuat koneksi antar-konsep.
Kurikulum IB, dengan 10 Learner Profile-nya, menempatkan atribut seperti thinkers dan inquirers sebagai pilar untuk mengembangkan kemampuan ini.
Siswa didorong untuk mengeksplorasi ide secara mendalam, mempertanyakan asumsi, dan mencari solusi inovatif, sehingga pembelajaran tidak hanya berhenti pada hafalan, tetapi menjadi proses yang bermakna.
Deep Thinking dalam Konteks IB
Diskusi selama pertemuan menyoroti bagaimana 10 IB Learner Profile—seperti inquirers, knowledgeable, dan reflective—mendukung deep thinking.
Misalnya, siswa yang menjadi inquirers mengembangkan rasa ingin tahu alami, sementara thinkers belajar menganalisis masalah kompleks secara kritis dan etis.
Pendekatan ini memungkinkan siswa membangun pemahaman yang lebih konseptual, yang selaras dengan tujuan kurikulum IB untuk menciptakan pelajar yang siap menghadapi tantangan global.
Pertemuan ini juga memperkuat pentingnya jaringan antar-sekolah IB. Para peserta, yang mewakili berbagai sekolah, berbagi pengalaman tentang bagaimana deep thinking dapat diintegrasikan dalam pembelajaran sehari-hari, mulai dari desain proyek hingga metode evaluasi.
Namun, deep thinking saja belum cukup tanpa pendekatan teknologi yang mendukung pembelajaran yang lebih terstruktur dan adaptif.
Menuju Deep Learning.
Bagian selanjutnya akan membahas konsep deep learning, sebuah pendekatan berbasis jaringan saraf yang mengubah cara kita memahami data dan pola belajar.
Bagaimana deep thinking dan deep learning dapat bersinergi dengan IB Learner Profile dan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat untuk menciptakan pembelajaran yang lebih efektif? Simak kelanjutannya pada tulisan mendatang.***
Editor : Sultan Achmad






