5 Hari Menuju Ramadhan 1447 H: Jangan Pilih Yang Buruk Saat Berinfaq

Jumat, 13 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Masjid KH Ahmad Dahlan di kawasan Jombang Muhammadiyah Center (JMC)

Masjid KH Ahmad Dahlan di kawasan Jombang Muhammadiyah Center (JMC)

Surat Al-Baqarah ayat 267 merupakan salah satu ayat yang berbicara tegas tentang adab dan etika dalam berinfak. Ayat ini menjadi pedoman penting bagi setiap Muslim agar tidak sekadar memberi, tetapi memberi dengan kualitas terbaik dan niat yang tulus.

Allah SWT berfirman dalam Al-Baqarah ayat 267:

“Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu infakkan, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”

1. Perintah Menginfakkan yang Baik

Ayat ini diawali dengan panggilan lembut namun tegas: “Wahai orang-orang yang beriman.” Ini menunjukkan bahwa kualitas iman seseorang sangat terkait dengan bagaimana ia membelanjakan hartanya.

Baca Juga:  SMA MBS Jombang Gelar Seminar Khusus Untuk Tingkatkan Inovasi dan Kreatifitas Pembelajaran

Allah memerintahkan agar yang diinfakkan adalah:

  • Hasil usaha yang baik dan halal

  • Hasil bumi yang berkualitas

  • Sesuatu yang layak dan bernilai

Infak bukan hanya tentang jumlah, tetapi juga tentang mutu dan keikhlasan.

2. Larangan Memberikan yang Buruk

Bagian ayat yang sangat menggugah adalah:

“Dan janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu infakkan, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya kecuali dengan memicingkan mata.”

Ini adalah sindiran halus namun tajam. Allah menggambarkan seseorang yang memberi barang yang:

  • Sudah rusak

  • Kualitasnya rendah

  • Hampir tidak layak pakai

  • Tidak ia sukai untuk dirinya sendiri

Seolah-olah seseorang berkata dalam hatinya:
“Yang penting saya sudah memberi.”

Padahal, jika ia sendiri diberi barang seperti itu, ia akan menerimanya dengan enggan, bahkan merasa tidak dihargai.

Baca Juga:  Menabur Benih Inovasi untuk Masa Depan yang Bercahaya

Ayat ini mengajarkan empati:
Jangan berikan kepada orang lain sesuatu yang kita sendiri tidak rela menerimanya.

3. Standar Kedermawanan dalam Islam

Islam menetapkan standar moral tinggi dalam bersedekah:

  • Memberi dengan yang terbaik

  • Tidak menyakiti penerima

  • Tidak merendahkan martabat orang yang diberi

  • Tidak merasa berjasa

Dalam praktik modern, ayat ini relevan ketika:

  • Menyumbangkan pakaian (jangan kirim yang sudah rusak berat)

  • Memberikan makanan (jangan yang hampir kedaluwarsa)

  • Memberi bantuan (jangan yang sekadar “buang barang”)

Infak bukan sarana membersihkan gudang, tetapi sarana membersihkan hati.

4. Allah Maha Kaya Lagi Maha Terpuji

Penutup ayat ini sangat penting:

“Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”

Allah tidak membutuhkan infak kita.
Kita lah yang membutuhkan pahala dan keberkahan dari-Nya.

Baca Juga:  PD Muhammadiyah Jombang Terima Wakaf Tanah dan Masjid Untuk PCM Jogoroto

Dua sifat Allah yang disebutkan:

  • Maha Kaya: Allah tidak bergantung pada harta manusia.

  • Maha Terpuji: Allah tetap terpuji, baik manusia bersedekah atau tidak.

Ini mengingatkan bahwa infak adalah bentuk ibadah dan pembuktian iman, bukan bantuan kepada Allah.

5. Refleksi untuk Kehidupan Sehari-hari

Ayat ini mengajak kita untuk merenung:

  • Apakah kita memberi dengan yang terbaik?

  • Apakah kita hanya memberi ketika tidak lagi membutuhkannya?

  • Apakah kita menjaga perasaan orang yang menerima?

Dalam dunia yang serba materi, ayat ini membangun peradaban berbasis empati dan kualitas.

Memberi bukan sekadar memindahkan barang dari tangan kita ke tangan orang lain, tetapi memindahkan kebaikan dari hati kita ke hati sesama.

Penulis : Hamba Allah

Berita Terkait

Manajemen Transformasi Pendidikan: Hari 6 – Menghantam Rintangan dengan Semangat Jihad Ilmu
Bikin Sekolah, Madrasah, Pesantren Cetar dengan Strategi Anti-Mager!
Ngegas Produktivitas Biar Sekolah, Madrasah, Pesantren Gak Cuma Tempat Selfie!
Menabur Benih Inovasi untuk Masa Depan yang Bercahaya
Menjaga Keberlanjutan Strategi Pendidikan untuk Masa Depan yang Gemilang
Investasi Sehat: Aset Berharga Untuk Masa Depan Gemilang
Bangun Kolaborasi Biar Strategi Gacor di Sekolah/Madrasah/Pesantren!
Jaga Semangat Tim Biar Strategi Gak Cuma Ngebul!

Berita Terkait

Jumat, 13 Februari 2026 - 17:11 WIB

5 Hari Menuju Ramadhan 1447 H: Jangan Pilih Yang Buruk Saat Berinfaq

Selasa, 29 Juli 2025 - 05:00 WIB

Manajemen Transformasi Pendidikan: Hari 6 – Menghantam Rintangan dengan Semangat Jihad Ilmu

Senin, 28 Juli 2025 - 05:00 WIB

Bikin Sekolah, Madrasah, Pesantren Cetar dengan Strategi Anti-Mager!

Minggu, 27 Juli 2025 - 05:00 WIB

Ngegas Produktivitas Biar Sekolah, Madrasah, Pesantren Gak Cuma Tempat Selfie!

Sabtu, 26 Juli 2025 - 05:00 WIB

Menabur Benih Inovasi untuk Masa Depan yang Bercahaya

Berita Terbaru