Muhammadiyahjombang.com – Saat menyampaikan tausiah di acara Pengajian Umum Ahad Pagi (PUAP) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Mojoagung pekan lalu, Prof. Dr. dr Sukadiono, MM., Ketua PWM Jatim menjelaskan, kebahagiaan sejati tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya harta, tetapi juga oleh ketenangan hati dan kebaikan yang kita berikan kepada sesama.
Menurutnya, ada empat amalan yang dapat dilakukan untuk meraih kebahagiaan, yaitu mendoakan orang lain, gemar menolong, mempermudah urusan sesama, dan menjaga perasaan orang lain.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang mengukur kebahagiaan dari kekayaan, jabatan, dan keberhasilan duniawi. Padahal, semua itu tidak menjamin seseorang memiliki hati yang tenang. Harta yang melimpah belum tentu membuat pemiliknya bahagia apabila hidupnya dipenuhi kecemasan, persoalan, dan ketidaktenangan batin.
Prof Sukadiono mengajak kita memahami bahwa salah satu kunci kebahagiaan adalah membahagiakan orang lain terlebih dahulu.
Pesan tersebut sejalan dengan firman Allah Swt. dalam Surah Al-Baqarah ayat 195 yang memerintahkan manusia untuk berbuat baik. Pada penggalan ayat tersebut, Allah menegaskan bahwa Dia mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.
Prof Sukadiono menegaskan, kebaikan yang diberikan kepada orang lain bukanlah sesuatu yang sia-sia. Sebaliknya, kebaikan itu tidak hanya memberikan manfaat pada orang yang menerimanya, tetapi juga bagi diri kita sendiri.
Kekayaan Sejati Berasal dari Hati yang Tenang
Kekayaan tidak selalu dapat diukur dari jumlah uang yang dimiliki seseorang. Seseorang mungkin memiliki banyak harta, rumah mewah, dan berbagai fasilitas kehidupan, tetapi belum tentu merasakan ketenangan.
Sebaliknya, orang yang hidup sederhana dapat merasakan kebahagiaan ketika kebutuhan hidupnya tercukupi, keluarganya dalam keadaan baik, dan hatinya dipenuhi rasa syukur.
Karena itu, kebahagiaan perlu dipahami secara lebih luas. Bukan hanya tentang apa yang berhasil kita kumpulkan, melainkan juga bagaimana kita menjalani kehidupan dan memperlakukan orang lain.
Dalam ceramahnya, Prof Sukadiono juga mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan mental. Ia menyinggung berbagai persoalan psikologis, seperti depresi dan gangguan kecemasan, sebagai pengingat bahwa kesehatan dan ketenangan batin merupakan bagian penting dari kualitas hidup.
Kebahagiaan memang tidak dapat menggantikan penanganan profesional terhadap gangguan kesehatan mental. Namun, membangun hubungan sosial yang baik, memiliki kepedulian terhadap sesama, dan menjalani kehidupan spiritual secara sehat dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesejahteraan diri.
Lantas, bagaimana cara membangun kebahagiaan melalui kebaikan kepada orang lain?
Empat Amalan Membahagiakan Orang Lain
1. Mendoakan orang lain dengan tulus
Amalan pertama adalah membiasakan diri mendoakan kebaikan bagi orang lain, sekalipun orang tersebut tidak mengetahui bahwa dirinya sedang didoakan.
Prof Sukadiono mengajak kita untuk membiasakan salat malam dan memanfaatkan waktu tersebut untuk memanjatkan doa. Doa tidak hanya ditujukan bagi diri sendiri dan keluarga, tetapi juga bagi saudara, tetangga, sahabat, serta orang-orang yang sedang menghadapi kesulitan.
Mendoakan orang yang sakit agar segera memperoleh kesembuhan, orang yang terlilit utang agar mendapatkan jalan keluar, atau orang yang sedang menghadapi persoalan agar diberi kemudahan merupakan wujud kepedulian yang sederhana tetapi bermakna.
Dalam Islam, mendoakan kebaikan bagi sesama juga mengajarkan manusia untuk mengurangi egoisme dan menumbuhkan ketulusan. Ketika seseorang terbiasa mengharapkan kebaikan bagi orang lain, ia sedang melatih hatinya agar lebih lapang, penuh empati, dan jauh dari kebencian.
Karena itu, Prof Sukadiono mengingatkan agar kita tidak membiasakan diri mendoakan keburukan bagi orang lain. Sebaliknya, perbanyaklah doa yang membawa kebaikan dan kemaslahatan.
2. Gemar menolong dan berbagi
Amalan kedua adalah membangun kebiasaan membantu orang lain sesuai kemampuan.
Prof Sukadiono mengutip ayat Al-Qur’an tentang pentingnya tolong-menolong dalam kebajikan dan ketakwaan. Ia menekankan bahwa kemurahan hati, kepedulian, dan kebiasaan berbagi merupakan sikap yang perlu ditumbuhkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Menolong tidak harus menunggu seseorang memiliki harta berlimpah. Bantuan dapat diberikan dalam berbagai bentuk, mulai dari menyisihkan sebagian rezeki, memberikan tenaga, berbagi pengetahuan, hingga meluangkan waktu untuk mendengarkan persoalan orang lain.
Dalam ceramahnya, mantan rektor Univ Muhammadiyah Surabaya itu menceritakan pengalamannya ketika anak perempuannya menghadapi masalah penginapan saat berada di Kuala Lumpur. Hotel yang telah dipesan melalui layanan perjalanan ternyata tidak sesuai dengan harapan.
Ia kemudian menghubungi seorang sahabat yang berada di Malaysia. Sahabat tersebut segera membantu, bahkan mengerahkan stafnya untuk menjemput dan mencarikan penginapan yang lebih baik bagi putrinya.
Pengalaman tersebut menjadi pengingat bagi Prof Sukadiono tentang pentingnya menjaga hubungan baik dan menolong sesama. Pertolongan yang datang pada saat sulit dapat menjadi jalan keluar yang tidak pernah disangka-sangka.
Kisah itu bukan berarti setiap kebaikan pasti dibalas dalam bentuk materi atau pertolongan yang sama. Namun, kepedulian yang kita bangun dapat mempererat persaudaraan dan membuka kesempatan hadirnya bantuan ketika dibutuhkan.
3. Mempermudah urusan orang lain
Amalan ketiga adalah berusaha mempermudah urusan sesama, bukan justru menciptakan hambatan.
Prof Sukadiono mengingatkan bahwa siapa pun yang diberi amanah untuk melayani masyarakat, baik sebagai aparatur pemerintah, pejabat, maupun pemimpin lembaga, harus menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab.
Pelayanan seharusnya diberikan secara profesional, adil, dan transparan. Masyarakat yang membutuhkan bantuan tidak semestinya dipersulit oleh prosedur yang tidak perlu, apalagi diminta memberikan imbalan yang tidak semestinya.
Pesan ini menjadi penting karena kemudahan yang diberikan kepada orang lain bukan sekadar persoalan pelayanan administratif. Di dalamnya terdapat nilai kemanusiaan, keadilan, dan tanggung jawab moral.
Dalam konteks organisasi, termasuk Muhammadiyah, amanah harus dijalankan dengan mengutamakan kepentingan bersama. Jabatan bukan sarana untuk menguntungkan keluarga atau kelompok sendiri, melainkan tanggung jawab untuk memberikan manfaat yang lebih luas.
Prof Sukadiono juga menekankan pentingnya menjaga kredibilitas. Kepercayaan, menurutnya, dibangun melalui integritas dan kompetensi, serta dapat berkurang ketika seseorang mengutamakan kepentingan pribadi.
Seseorang mungkin memiliki kemampuan dan pengalaman yang baik. Namun, apabila kedudukannya digunakan untuk kepentingan sendiri, kepercayaan orang lain akan sulit dipertahankan.
Karena itu, integritas harus berjalan bersama kompetensi dan sikap adil. Pemimpin yang amanah adalah pemimpin yang mampu membedakan kepentingan pribadi dengan tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya.
Prinsip tersebut berlaku dalam berbagai lingkungan, mulai dari keluarga, tempat kerja, organisasi kemasyarakatan, hingga pemerintahan.
4. Menjaga perasaan dan bertutur kata dengan baik
Amalan keempat adalah menjaga perasaan orang lain melalui sikap, perkataan, dan tindakan yang penuh pertimbangan.
Prof Sukadiono mengingatkan bahwa setiap orang perlu berhati-hati sebelum berbicara atau melakukan sesuatu yang berpotensi menyakiti orang lain. Menjaga perasaan bukan berarti harus selalu mengikuti keinginan semua orang, melainkan menunjukkan penghormatan dan kepedulian terhadap sesama.
Dalam kehidupan bertetangga, misalnya, seseorang yang hendak melakukan kegiatan yang berpotensi mengganggu lingkungan dapat membicarakannya terlebih dahulu dengan tetangga. Sikap sederhana tersebut menunjukkan adanya penghormatan dan keinginan menjaga hubungan baik.
Begitu pula dalam berbicara. Kebiasaan menggunakan kata-kata kasar, merendahkan orang lain, atau melontarkan ucapan tanpa mempertimbangkan dampaknya perlu dikendalikan.
Prof Sukadiono mengutip hadis tentang pentingnya berkata baik atau diam bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Pesan ini mengajarkan bahwa keimanan seharusnya tercermin dalam perilaku sehari-hari, termasuk cara seseorang berkomunikasi.
Meskipun setiap daerah memiliki kebiasaan bahasa dan gaya bicara yang berbeda, nilai kesantunan tetap penting untuk dijaga. Keakraban tidak harus dibangun dengan ucapan yang melukai, dan keterusterangan tidak harus mengorbankan penghormatan terhadap orang lain.
Dengan menjaga perasaan sesama, seseorang belajar untuk lebih bijaksana, mengendalikan diri, dan membangun hubungan sosial yang sehat.
Kebaikan Membentuk Lingkungan yang Lebih Bahagia
Keempat amalan tersebut menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak hanya berkaitan dengan keadaan pribadi, tetapi juga dengan kualitas hubungan antarmanusia.
Ketika seseorang mendoakan orang lain, ia menumbuhkan ketulusan. Ketika ia gemar menolong, ia memperkuat solidaritas. Ketika ia mempermudah urusan sesama, ia menghadirkan manfaat nyata. Ketika ia menjaga perasaan orang lain, ia turut menciptakan lingkungan yang lebih nyaman dan harmonis.
Kebaikan-kebaikan tersebut dapat dimulai dari tindakan sederhana. Membantu tetangga, mendengarkan keluh kesah teman, memberikan pelayanan yang baik, atau memilih kata-kata yang lebih santun merupakan contoh nyata yang bisa diterapkan setiap hari.
Prof Sukadiono juga menyinggung peran kebahagiaan dalam kehidupan manusia dan mengaitkannya dengan hormon yang berhubungan dengan suasana hati, seperti endorfin, oksitosin, serotonin, dan dopamin. Penjelasan tersebut menjadi pengingat bahwa kondisi psikologis dan interaksi sosial memiliki hubungan yang erat, meskipun mekanisme biologis kebahagiaan tidak sesederhana peningkatan satu hormon saja.
Pada akhirnya, kebahagiaan bukan sesuatu yang harus selalu dicari melalui pencapaian besar. Ia juga dapat tumbuh dari rasa syukur, hubungan yang baik, kepedulian, dan kebiasaan memberikan manfaat kepada sesama.
Membahagiakan Orang Lain, Menemukan Kebahagiaan Diri
Pesan utama tausiah Prof Sukadiono itu adalah bahwa manusia perlu menyeimbangkan usaha membahagiakan diri dengan kepedulian terhadap orang lain.
Kebahagiaan tidak semestinya membuat seseorang hanya berfokus pada kepentingan pribadinya. Sebaliknya, kebahagiaan dapat menjadi lebih bermakna ketika seseorang mampu menghadirkan manfaat bagi keluarga, tetangga, lingkungan, dan masyarakat luas.
Melalui empat kebiasaan sederhana—mendoakan orang lain, gemar menolong dan berbagi, mempermudah urusan sesama, serta menjaga perasaan orang lain—setiap orang memiliki kesempatan untuk membangun kehidupan yang lebih baik.
Sebagaimana pesan yang ditekankan dalam kajian tersebut, berbuat baik kepada orang lain merupakan investasi moral dan spiritual. Kebaikan itu mungkin tidak selalu kembali dalam bentuk yang sama, tetapi dapat meninggalkan jejak berupa hubungan yang lebih kuat, lingkungan yang lebih harmonis, dan hati yang lebih lapang.
Sebab, salah satu jalan menuju kebahagiaan adalah berhenti hanya bertanya bagaimana hidup kita bisa menjadi lebih baik, tapi bertanyalah apa yang bisa kita lakukan agar kehidupan orang lain juga menjadi lebih baik.***
Penulis : Purnomo











Komentar