MuhammadiyahJombang.Com – Terinspirasi dari kajian pertama yang dilakukan oleh Muhammad Darwis atau biasa kita sebut KH. Ahmad Dahlan bersama Haji Muhammad Sudja, Kyai Syuja, Haji Fachruddin, Haji Tamim, Haji Hisyam, Haji Syarkawi, Haji Abdul Ghani dan mengejawantahkan kata pertama dalam rukun islam, IPM dan IMM Jombang sepakat adanya kajian ideologi yang bertajuk “wal-‘asr”
Bertempat di ruang Sang Pencerah MI Muhammadiyah 1 Jombang, IPM dan IMM Jombang menggelar pertemuan guna membahas program kolaborasi dalam rangka penguatan ideologi yang dibalut dengan wacana keilmuan. Tidak berlebihan apabila kita menyebut IPM sbg kader ideologi karena notabene seluruh program kerja yang dijalankan tujuannya adalah penguatan ideologi, hal tersebut juga berpengaruh terhadap jenjang kaderisasi selanjutnya yaitu IMM. Dimana IMM merupakan kader intelektual yang termaktub dalam tujuan berdirinya yaitu terbentuknya akademisi islam dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah
Oleh karena pada Sabtu 14 Desember 2024 IPM dan IMM jombang mengadakan pertemuan terbatas guna menyoal kajian ideologi tersebut dalam pertemuan tersebut disepakati bahwa akan ada beberapa pertemuan yang diantaranya akan membahas Sistem Perkaderan Rasulullah (SPR) dan Sistem Perkaderan Muhammadiyah (SPM). Tak lupa dalam kajian yang bertajuk “wal-‘asr” juga akan membahas isu-isu kontemporer yang juga sedang hangat dibicarakan oleh kawula muda.
Chafidotus selaku ketua umum IPM Jombang menyampaikan ‘kajian ini kami inisiasi atas dasar lemah literasi dikalangan pelajar, kami melihat kalau kajian ini hanya dijalankan oleh IPM maka tidak akan continue. Oleh karena itu kami mengajak kanda kami di IMM yang memang fokus gerakannya di keilmuan guna menunjang kajian tsb serta suatu bentuk kolektif kolegial diantara pelajar dan mahasiswa’
Pernyataan Chafidotus tsb dibenarkan dan dikuatkan oleh Abdul Maliki selaku ketua umum IMM Jombang ‘sebelum adanya pertemuan ini adinda-adinda IPM sempat menyampaikan kekhawatirannya terhadap lemahnya literasi dikalangan pelajar dan menginginkan sebuah forum kajian namun mereka sadar diri jika mereka melakukan sendiri mereka masih kebingungan dengan konsep dan teknis kajian yang tepat untuk memulainya seperti apa, akhirnya kami rembuk diinternal dan akhirnya kami sepakat untuk mengajak berkolaborasi’
Kajian tersebut bukan hanya ajang mendengarkan para pematik/pemateri atau memakai konsep klasik dimana para peserta kajian hanya jadi pendengar tapi akan dikemas secara dialogis agar dinamika forum tetap hidup.
Dalam forum semalam disepakati bahwasanya pelaksanaan kajian diadakan diluar agenda internal IPM maupun IMM guna menjaga stabilitas organisasi.***
Penulis : Abdul