Oleh KH. Nur Rachmat Hidayat, S. Ag. M. HI.
Salah satu ciri khas pemenang adalah keberanian menghadapi celaan dan cacian. Menjadi pemenang bukan hanya siap dikitik dan dibenarkan ketika salah, bahkan ia harus berani dicaci dan dicela ketika benar. Karena itu, Allah SWT menyebutkannya sebagai salah satu ciri utama pemenang dalam surat al-Maidah ayat 54,
ْو َمةَ ََلئِ م و َن لَ َوََل يَ َخافُ …
“… tidak takut akan celaan orang yang suka mencela… .”
Imam Syafi’i pernah berkata, “Barang siapa menyangka ia akan selamat dari celaan manusia, maka ia kehilangan akal sehatnya. Bahkan Allah SWT saja menjadi sasaran celaan manusia dengan mengatakan: Allah adalah satu diantara tiga tuhan. Rasulullah SAW juga dikatakan sebagai orang gila dan tukang sihir. Apalah kita dibandingkan Allah SWT dan Rasul-Nya.”
Abu Wa’il dalam tafsir al-Quthuby menuturkan, bahwa Rasulullah SAW pernah dicela oleh seseorang dalam perkara pembagian harta rampasan perang. Orang ini mencemooh cara pembagian sang Nabi SAW., dengan berkata, “ini adalah cara membagi harta yang bukan ditujukan mencari ridho Allah.” Mendengar ini, Rasulullah SAW pun murka. Beliau yang adalah manusia terbaik dan paling bertakwa kepada Allah dituduh serendah itu. Tudingan ini pasti tidak benar. Karena jika benar beliau berlaku hina maka kita yang kualitasnya lebih rendah dari beliau pasti tidak akan selamat. Marah beliau kemudian menunjukkan unggulnya kualitas. Dalam jengkelnya, beliau hanya bersabda, “Semoga Allah SWT merahmati nabi Musa AS. Sungguh ia disakiti lebih dari ini, tapi ia tetap bersabar.”
Rasulullah SAW sendiri pernah menceritakan bagaimana Bani Israil menyakiti nabi mereka, Musa AS. Konon Bani Israil terbiasa mandi bersama sehingga satu sama lain saling bisa melihat aurat mereka. Nabi Musa AS memilih untuk tetap menutup aurat dan tidak ikut kebiasaan mandi bersama ini. Akhirnya mereka menuduh bahwa yang menghalangi beliau mandi bersama hanyalah karena beliau mempunyai cacat di aurat dan didera penyakit belang.
Tentu nabi Musa AS. merasa sedih dengan perlakuan ini. Tapi beliau juga berada dalam dilema. Untuk mengklarifikasi hal ini, beliau harus membuka auratnya dihdapan kaumnya, dimana beliau tentu tidak bisa melakukannya. Sementara jika tidak dibantah, maka kaumnya akan terus menyakiti beliu dengan tuduhan murahan tapi menyakitkan ini. Hingga dalam kita al-Adab asySyar’iyyah, Ibn Muflih al-Maqdisy meriwayatkan keluhan nabi Musa AS kepada Allah SWT.
Ia mengadu, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku mengatakan tentangku apa yang sebenarnya tidak ada dalam diriku.” Seolah ia memohon kepada Allah agar perkara ini dijauhkan darinya, sehingga ia tidak disakiti oleh kaumnya. Tapi ternyata Allah menjawab seperti ini, “Wahai Musa, sesungguhnya Aku tidak menciptakannya untuk diri-Ku sendiri, maka bagaimana aku akan menciptakannya untukmu.” Allah SWT seolah menghibur Musa. Bahwa IA pun tetap membiarkan manusia mencela-Nya walau berkuasa untuk menghentikannya.
Tetapi Allah SWT yang maha penyayang tentu tidak akan tinggal diam melihat nabi-Nya disakiti. IA mengatur cara terbaik untuk mebersihkan Musa AS dari tuduhan. Pada suatu hari nabi Musa AS mandi terpisah dari kaumnya. Ia meletakkan pakaiannya diatas sebuah batu. Ternyata batu itu lari membawa pakaiannya, atas izin Allah SWT. Nabi Musa pun mengejarnya sambil berteriak, “Batu… pakaianku!” Ia berlari mengejar batu tersebut hingga bertemu kaumnya, dan tidak sengaja terlihat auratnya. Akhirnya mereka mengetahui bahwa tuduhan yang dilontarkan kepada nabi Musa AS tidak benar. Nabi Musa pun terklarifikasi dari tuduhan tanpa melanggar aturan Allah SWT.
Allah pasti akan membela hamba-Nya yang beriman. Ia telah menjanjikannya dalam surat al-Hajj ayat 38.
وا ُ َمن ِذي َن آ َّ ع َع ِن ال دَافِ ُ ُ ََّّللاَ ي ن َّ ِ إ
“Sesungguhnya Allah membela orang yang beriman. … .”
Sehingga cara untuk tetap berani menghadapi cacian dan celaan ketika berada di jalan yang benar adalah dengan meneguhkan keimanan kita kepada Allah SWT. Lalu beristikamah dalam kebaikan keimanan tersebut. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW,
م ا ْستَِق ْم ! َّ ُ ِا هّلل ث َمْن ُت ب قُ ْل آ
“Katakan, Aku beriman kepada Allah. Kemudian istikamahlah”.
Editor : Sultan Achmad