MuhammadiyahJombang.Com – Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tak bisa lepas dari kesalahan.
Kesalahan tersebut ada yang tidak sengaja namun ada juga yang sengaja ingin dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu.
Tak hanya kepada manusia saja, kesalahan yang disengaja juga sering dilakukan oleh manusia kepada Allah SWT.
Mereka dengan terang-terangan melakukan hal yang dilarang, mulai dari yang terkecil seperti menggunjing orang lain, mengolok-olok, mengambil sesuatu yang bukan haknya, makan makanan yang haram, hingga berbuat maksiat.
Saat awal melakukan perbuatan terlarang, dalam hati manusia akan muncul rasa keki, malu dan sebagainya.
Namun jika sering dan terus menerus dilakukan, rasa malu saat berbuat maksiat itu akan hilang.
Bahkan bukan hanya tidak malu lagi, orang yang terbiasa berbuat maksiat malah akan merasa bangga dan ingin dipamer-pamerkan kepada orang lain.
Kita tidak sadar, bahwa perbuatan maksiat, sekecil apapun bentuknya, jika dilakukan terus menerus akan menjauhkan kita dari Allah SWT.
Berikut adalah dampak yang akan terjadi jika kita terus melakukan perbuatan maksiat dan tidak segera menghentikannya:
1. Hilangnya keberkahan umur.
Seseorang yang hidupnya dipenuhi dengan perbuatan maksiat, maka sepanjang hidupnya tidak akan bisa merasakan ketentraman yang hakiki.
Ia akan selalu merasa gelisah dan merasa kurang atas apapun yang telah ia miliki.
2. Menghilangkan keberkahan rizki
Secara kasat mata, rizki yang diperoleh dari jalan maksiat akan membuat harta kita bertambah.
Namun hilangnya keberkahan dari rizki itu akan membuat kita tidak akan bisa merasakan kenikmatannya.
Semakin banyak rizki, persoalan yang datang justru akan semakin bertubi sehingga harta yang dimiliki dari jalan maksiat malah akan menyengsarakan diri kita sendiri.
3. Menghilangkan keberkahan ilmu
Semakin tinggi ilmu harusnya akan membuat orang yang memiliki ilmu itu merasakan kebahagiaan sepanjang hidupnya.
Namun jika keberkahan atas ilmu itu sudah dicabut, maka kita tidak akan bisa merasakan nikmatnya memiliki ilmu tersebut.
Bahkan bukan tidak mungkin, ilmu kita justru akan melahirkan hal-hal yang dapat merugikan orang lain dan diri sendiri.
4. Menghilangkan keberkahan amal
5. Menghilangkan keberkahan ketatan.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ آمِنُوا بِمَا نَزَّلْنَا مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَطْمِسَ وُجُوهًا فَنَرُدَّهَا عَلَىٰ أَدْبَارِهَا أَوْ نَلْعَنَهُمْ كَمَا لَعَنَّا أَصْحَابَ السَّبْتِ ۚ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا
Hai orang-orang yang telah diberi Al Kitab, berimanlah kamu kepada apa yang telah Kami turunkan (Al Quran) yang membenarkan Kitab yang ada pada kamu sebelum Kami mengubah muka(mu), lalu Kami putarkan ke belakang atau Kami kutuki mereka sebagaimana Kami telah mengutuki orang-orang (yang berbuat maksiat) pada hari Sabtu. Dan ketetapan Allah pasti berlaku.
*Surat An Nisa Ayat 47*
Semoga Allah selalu menjaga dan menjauhkan kita dari kemaksiatan, sehingga kita selalu mendapat ketenangan dan bisa istiqomah dalam menjalankan perintahNya.***
Penulis : Ust. Sunaji
Editor : Sultan Achmad