Suara Perempuan Di Ujung Nafas

Rabu, 5 Februari 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

oleh Anggun Nuke Arsita

Dunia ini telah gila.
Ketika perempuan dianggap tak bisa melakukan apa-apa selain tunduk dan menjadi kacung di bawah atap tanah liat, mereka terbawah.

Dengan dalih bakti pada yang lebih tua dan yang menjadi kepala, mereka ditekan.
Kacau!

***

Upacara pemakaman baru saja berakhir, para pelayat berangsur meninggalkan area pemakaman yang dipenuhi dengan wangi mawar.

Tak ada yang tersisa, kecuali perempuan itu yang masih terpaku di depan gundukan tanah basah dengan nisan yang baru tertancap di
anan dan kirinya.

Pandangannya kosong, wajahnya tanpa emosi, tetapi hatinya penuh
dengan awan gelap yang siap meledakkan guntur.

Setelah beberapa saat, perempuan itu bangkit dan meninggalkan area pemakaman.

Ia berjalan menuju rumahnya yang tak jauh dari pemakaman, dan sepanjang jalan itu hampir tiap pasang mata warga sekitar menatapnya penuh iba, seolah mereka benar-benar tahu apa yang perempuan itu rasakan.

Bahkan, setelah satu minggu berlalu, duka itu masih terus menghantui.

Bukannya mereda, justru semakin menganga.

“Biar Adik yang jaga Ibu di rumah. Dia anak perempuan, gak perlu muluk-muluk kerja ini dan itu.”

Perempuan itu menghentikan langkahnya ketika ia baru saja keluar dari kamarnya.

Perkataan Alam, kakak perempuan itu, berhasil membuatnya terpaku.

Bapaknya baru saja mati satu minggu yang lalu!

Dan sekarang dirinya juga akan ikut dikubur di dalam rumahnya sendiri?

“Lagipula, Ibu pasti lebih nyaman kalau sama anak perempuannya sendiri, daripada sama menantu perempuan,” kata Alam lagi.

“Lam, biarkan adikmu menggapai mimpinya. Kalau kau ingin pergi dengan istrimu, tak apa, tak usah khawatir dengan Ibu,” ucap Gayatri dengan suara paraunya.

Tentu saja ia juga tak ingin membebani anak-anaknya.

“Bapakku sekolahkan aku tinggi-tinggi supaya bisa hidup lebih baik,” sahut perempuan itu dengan tatapan yang cukup menusuk.

Baca Juga:  Bir Pletok Buat Juragan Kontrakan

Ia berdiri di hadapan ibu dan kakaknya yang sedang duduk di kursi ruang tamu.

“Kau pikir, bapakku keluar banyak duit hanya untuk membuatku tetap hidup susah?”

“Maksudku, kau kerja saja di sekitar sini sambil jaga Ibu, Kala.” Alam menatap adiknya sejenak dengan sedikit terkejut, tak menyangka bahwa adiknya yang selama ini banyak diam dan menurut malah membantah seperti itu.

Kala, perempuan itu, tersenyum sinis dan berdecak pelan.

Ia mengusap sisa air mata yang ada di ujung matanya, tangannya mengepal erat.

“Kalau mencari pekerjaan di posisi yang sesuai dengan pendidikanku itu mudah di kota kecil ini, sudah dari dulu aku bekerja di sini.”

“Kau ‘kan bisa bekerja di bidang lain. Cari saja yang sesuai dengan kemampuanmu di sini, pasti ada. Zaman sekarang kerja tak harus sesuai dengan pendidikan,” timpal Alam tanpa ragu.

“Apa gunanya aku terima permintaan Bapak untuk melanjutkan pendidikan kalau akhirnya aku hanya berakhir bekerja serabutan?”

Kala melangkah semakin mendekat, berhenti tepat di samping tempat duduk Alam.

“Kala …” Gayatri yang sedari tadi bungkam, akhirnya angkat bicara.

“Ibu, 5 bulan ini aku kerja di sini, aku tak bisa bantu banyak untuk rumah, aku bahkan tak bisa menyisihkan uang untuk tabunganku sendiri,” sela Kala, tatapannya benar-benar tak mengisyaratkan kekalahan.

“Dan selama ada dia di sini, apa dia bantu Ibu?”

Kala menatap Alam sejenak. Selama ini, ia cukup muak dengan kelakuan kakaknya.

Anak laki-laki itu menjadi kesayangan orang tuanya, ia dimanja sejak kecil, bahkan setelah menikah pun masih diperlakukan seperti itu, pun dengan istrinya.

Namun sialnya, dua manusia itu seperti tak tahu diri.

“Kalau aku tetap di sini, dengan kondisi keuanganku yang seperti itu, memang dia mau bantu kita, Bu?” Kala menatap Gayatri dengan penuh rasa tak terima.

Baca Juga:  Pertama Kalinya, SMA Muhammadiyah 1 Jombang Menggelar Tashih & Munaqosyah Tahfidz Metode UMMI

“Aku punya keluarga, tentu saja aku harus mendahulukan keluargaku,” sahut Alam tak mau kalah.

“Hampir 4 tahun kau dan keluargamu tinggal dengan Bapak dan Ibu, di rumah bapakku ini.

” Kala sekali lagi melangkah, menatap Alam lebih dalam lagi, bahkan ia sedikit membungkukkan tubuhnya untuk lebih dekat dengan Alam yang masih duduk di kursi kayu itu.

“Apa kau bantu mereka beli beras? Apa kau bantu mereka membayar tagihan listrik?”

Alam bungkam. Nyatanya, ia memang tak pernah melakukan itu semua.

“Kau malah buat ulah sampai-sampai bapakku harus menjual tanah untuk melunasi hutangmu!” lanjut Kala dengan suara yang mulai meninggi.

“Sekarang, kau suruh aku diam di rumah ini? Kau pikir aku mau hidup sepertimu?”

Mata alam terbelalak lebar, ia benar-benar tak pernah menduga kalimat seperti itu akan keluar dari mulut adik satu-satunya itu.

“Tahu apa kau soal keluargaku?”

Bagi Kala, selama ini ia telah terlalu banyak diam. Banyak hal besar dalam hidupnya yang telah diatur oleh bapaknya, ia terima begitu saja karena kakaknya yang tak mau mengikuti kehendak sang bapak.

Kala tahu, saat itu sangat sulit untuknya karena sering kali
itu semua bertentangan dengan apa yang ia ingin lakukan untuk hidupnya sendiri.

Namun, kini ia paham bahwa bapaknya hanya ingin menuntunnya menuju jalan yang lebih mudah.

“Kala, aku tahu pendidikanmu bagus, tapi asal kau tahu, perempuan sampai tua juga akan tetap kembali ke dapur,” kata Alam seolah ingin membalikkan keadaan.

“Tak mungkin setelah kau menikah dan punya anak, kau akan terus bekerja dan membiarkan anakmu diasuh orang lain. Kau pikir suamimu akan membiarkan itu semua?”

“Alam, Kala, sudah jangan seperti ini,” sahut Gayatri, jujur saja hatinya masih hancur setelah ditinggal suaminya, tak sanggup jika harus melihat dua anaknya malah bertengkar.

Baca Juga:  Tangan 1

“Kau pikir aku akan menikah dengan laki-laki kolot sepertimu?” Kala lagi-lagi tak mau kalah.

“Keluar, bergaul dengan dunia yang lebih luas. Dunia ini terus berjalan, sayangnya manusia sepertimu memilih untuk tetap diam di tempat.”

Alam terdiam, mencerna ucapan adiknya yang terasa menusuk, tetapi juga cukup sulit untuk dipahami mentah-mentah.

“Sekarang, terserah saja kalau kau memang ingin pergi dari rumah ini dan meninggalkan Ibu,” lanjut Kala. Ia mengeluarkan ponsel dari sakunya, membuka sesuatu dari sana dan menunjukkannya kepada Alam dan Gayatri. “Lihat, aku sudah diterima bekerja
di pulau seberang dengan posisi yang sesuai dengan kemampuan dan pendidikanku, tentunya dengan gaji yang tinggi.”

“Kala, kau …” Alam semakin membelalakkan mata. Tentu saja ini semua tak seperti rencananya sebelumnya.

Sudah cukup Kala mengalah selama ini, sudah cukup jalan hidupnya begitu terjal.

“Silakan kau pergi, tak usah pikirkan nasib Ibu karena aku akan bawa Ibu pergi denganku. Dan setelah itu, jangan harap kau bisa bertemu dengan Ibu lagi,” ucap Kala yang terdengar seperti sebuah vonis.

***

Nyatanya, dunia memang berjalan dan berubah. Ketika manusia tak bisa menyusul langkah perputaran dunia, maka tertinggal sudah ia.

Ketika manusia tak berani melawan yang tak seharusnya diterima, maka mati sudah ia.

“Kala, kau perempuan, tapi bagaimana bisa kau selalu berani melawan?” tanya seorang pria paruh baya dengan sebatang lisong yang terjepit di antara telunjuk dan jari tengahnya.

“Hanya mereka yang terkurung dalam kata ikhlas dan mengalah yang tak berani bersuara. Padahal, perempuan juga punya mulut untuk berteriak,” jawab Kala dengan senyuman di wajahnya.

Ia lantas melempar sebuah batu karang kecil yang sedari tadi ia
mainkan.

“Berhentilah merokok, Pak. Kau tahu, bapakku mati karena terlalu banyak merokok.”

***

Editor : Sultan Achmad

Berita Terkait

Bir Pletok Buat Juragan Kontrakan
Astara
Tangan 1
KAU PANGGIL AKU, MBAK
IJAJIL

Berita Terkait

Rabu, 19 Februari 2025 - 20:50 WIB

Bir Pletok Buat Juragan Kontrakan

Rabu, 5 Februari 2025 - 20:54 WIB

Suara Perempuan Di Ujung Nafas

Senin, 13 Januari 2025 - 18:12 WIB

Astara

Jumat, 6 Desember 2024 - 23:10 WIB

Tangan 1

Selasa, 15 Oktober 2024 - 08:06 WIB

KAU PANGGIL AKU, MBAK

Berita Terbaru

Siswa MIM 10 Jombang mengumandangkan adzan

Pendidikan

MIM 10 Jombang Gelar Program Life Skill Ramadhan

Jumat, 14 Mar 2025 - 07:53 WIB