Oleh: Ust. Sudiyana
Secara qodrati kita diciptakan sebagai makhluk sosial.
Kita tidak mungkin hidup sendiri tanpa bersinggungan dengan orang lain.
Jadi mau tidak mau apapun yang kita perbuat akan membutuhkan orang lain.
Penilaian orang lain tentang yang kita perbuat sedikit banyak akan membekas dalam hati sanubari kita.
Kita melangkah kemanapun akan mendapat penilaian dari orang.
Penilaian inilah yang akan mempengaruhi batin kita.
Ada beberapa hal yang patut kita jadikan tolok ukur dalam mendengar dan menanggapi penilaian orang lain.
1. Dalam Qur’an Luqman (Q.S.31: 17) yang artinya “ ……dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu….”
Ayat ini menerangkan untuk melaksanakan amar makruf nahi mungkar.
Setiap gerak langkah mesti ada konsekwensinya, komentar orang yang satu dan lainnya ada yang sama dan tidak jarang berbeda. Bersabar….! Itu perintah Lukman.
2. Kisah anak dan bapak naik keledai.
Dalam kisah ini, perjalanan dua orang yang berbeda usia dan statusnya anak dan ayah berjalan sama – sama dengan menuntun seekor keledai.
Kasus 1, keledai dituntun dua duanya berjalan.
Komentar orang yang melihat: “Kok keledainya dituntun. Agar tidak capai, ‘kan bisa keledai dinaiki. Kasihan kan anak bapak, berjalan kaki”, kata orang itu lagi.
Kasus 2, Anak naik keledai bapak berjalan
Komentar orang yang melihat: “Dasar anak tidak tahu diri. Masak bapaknya di bawah menuntun keledai Anaknya enak-enakan naik keledai.
Tidak sopan, harusnya bapaknya yang sudah tua yang naik dan anaknya yang menuntun. Itu baru anak berbakti”.
Begitu komentar orang kedua yang mereka temui.
Kasus 3, Bapak naik keledai anak berjalan
Komentar orang yang melihat: “Dasar bapak tidak sayang anak. Masak ia enak-enakan naik keledai, sementara anaknya yang menuntun.
Orang tua macam apa yang tidak sayang anaknya”.
Begitu komentar orang ketiga yang mereka temui.
Kasus 4, Anak dan Bapak naik bersama
Komentar orang yang melihat: “Dasar manusia tidak tahu perikehewanan. Tidak punya rasa belas kasihan. Masak keledai kurus begitu dinaiki dua orang. Benar-benar manusia biadab” kata orang keempat.
Dari kasus di atas, pelajaran yang dapat kita ambil?
Begitulah dalam hidup ini.
Apapun yang kita lakukan tetap ada pro dan kontra.
Tiap orang berhak untuk menilai apa yang kita lakukan.
Penilaian setiap orang tidak akan sama persis dengan apa yang kita harapkan.
Untuk itu, lakukanlah apa yang menurut kajian kita baik dan tinggalkan apa yang menurut kita tidak perlu untuk dilakukan.
Satu prinsip “Jika sudah mantap pikiran kita, satu – satunya jalan adalah bertawakkal kepada Allah. (QS. Ali Imran 159)
Kembali ke judul yang menjadi pertanyaan kita “Perlukah Perbuatan Kita Diakui Sesama Manusia?”
Dasar akidah kita adalah “Ikhlas”, manusia mengakui ataupun tidak itu bukan hal penting yang menjadi pertimbangan kita dalam berbuat.
Dalam sebuah hadits, yang ditakhrij oleh Imam Muslim dijelaskan:
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Orang yang pertama kali diputuskan pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang mati syahid di jalan Allah. Lalu dia didatangkan, kemudian Allah memperlihatkan kepadanya nikmat-Nya, maka dia pun mengenalinya.
Allah berkata, ‘Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat itu? ‘Orang tersebut berkata, ‘Aku telah berperang di jalan-Mu sampai aku mati syahid. ‘Lalu Allah SWT berkata, ‘Engkau dusta, engkau melakukan itu supaya disebut sebagai seorang pemberani dan ucapan itu telah dilontarkan. ‘Kemudian diperintahkan agar orang tersebut dibawa, maka dia diseret dengan wajahnya (terjerembab di tanah), sampai dia pun dilemparkan di neraka.
Kemudian ada orang yang belajar agama dan mengajarkannya, serta membaca Alquran. Lalu orang itu didatangkan, lalu Allah SWT memperlihatkan nikmat-Nya dan orang itu pun mengenalinya. Allah berkata, ‘Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat itu? ‘Orang itu menjawab, ‘Aku telah belajar agama, mengajarkannya dan aku telah membaca Alquran.’
Allah berkata, ‘Engkau dusta. Engkau belajar agama supaya disebut orang alim dan engkau membaca Al Quran supaya disebut qari’ dan ucapan itu telah dilontarkan.’ Kemudian diperintahkan agar orang tersebut dibawa, maka dia pun diseret dengan wajahnya (terjerembab di tanah) sampai dia pun dilemparkan di neraka.’
Kemudian ada seorang laki-laki yang diberikan kelapangan oleh Allah dan dianugrahi segala macam harta.
Lalu dia pun didatangkan, lalu Allah memperlihatkan nikmat-Nya dan orang itu pun mengenalinya. Allah SWT berkata, ‘Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat itu?’
Orang itu mengatakan, ‘Aku tidak meninggalkan satu jalan pun sebagai peluang untuk berinfak melainkan aku berinfak di situ semata-mata karena-Mu. ‘Allah SWT berkata, ‘Kau bohong, kau melakukan itu supaya disebut dermawan dan ucapan itu telah dilontarkan. ‘Maka orang itu diperintahkan untuk dibawa, lalu dia pun diseret dengan wajahnya (terjerembab di tanah), kemudian dia dilemparkan di neraka.”
Inilah akibatnya jika kita mengerjakan segala sesuatu hanya karena ingin diakui oleh manusia.
Semoga kita dijauhkan dari hal – hal yang diterangkan di atas.
Tanamkan dalam benak kita bahwa “berbuat baik kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik pada kita” ( Q.S. Al-Qasas : 77).***
Editor : Sultan Achmad