Oleh Vico Taufiqul Huda
Riuh sesak jalanan dan terik panas yang meradang siang itu membuat siapapun ingin mengumpat. Lampu merah menyala di saat yang tidak tepat. Membuat pengendara ingin melesat di saat sepersekian detik lampu hijau menyala.
Namun jenis lampu lalu lintas di route perjalanan kuliah Angger adalah yang mempunyai hitungan detik. Hingga seringkali para pengendara menyerobot walau belum menyala lampu hijau. Suatu kegiatan pelanggaran aturan yang Angger pun sekali dua kali melakukannya.
“Aturan dibuat adalah untuk dilanggar”
Seringkali Angger mendengar ungkapan itu. Entah di televisi, warung kopi, atau bahkan bacaan yang dibacanya. Angger pun jengah dengan kalimat itu. Hingga akhirnya dia membenci dan mengutuk kalimat itu.
….
Di hari yang berbeda, namun masih dengan suasana memuakkan yang sama di lampu lalu lintas. Beberapa polisi mengadakan razia. Lampu merah masih menunjukkan angka 30. Suasana lelah dan lesu tergambar di wajah para pengendara kala itu. Pada angka 20, para pengendara mulai memegang tuas gas. Detik 10 mereka bersiap sembari melihat rentetan kendaraan yang mulai agak sepi di jalur yabg melintang di depan. Detik 3, Angger mulai tancap gas karena tahu lampu lalu lintas di jalur depan telah menyalakan lampu hijau. Bunyi peluit terdengar dibunyikan oleh polisi dan Angger pun disuruh menepi.
“SIM dan STNK nya mas”
“Ini pak”
Polisi mengecek surat-surat Angger. Tak ada celah bagi polisi untuk menilangnya dari segi kelengkapan berkendara.
“Anda tahu salah anda?”
“Hehe, menerobos lampu merah pak”
“Maka dari itu anda saya tilang”
“Tapi pak, biasanya orang-orang juga begitu kok”
“Ya itu kan biasanya mas, kali ini beda”
Angger melihat suasana lalu lintas dan dia baru sadar kalau hanya dia yang melanggar waktu itu. Dia jengkel. Bukan kepada pak polisi yang sedang menjalankan tugas, melainkan masyarakat yang terlalu pengecut menurutnya untuk mengutarakan isi hati mereka pada aparat.
“Untuk sementara SIM nya saya bawa dulu mas. Selasa anda sidang”
“Baik pak”.
Akhirnya Angger pun menyerahkan SIM nya. Dan dia pun melanjutkan perjalanannya ke kampus yang sudah tinggal 2 kilometer dari tempatnya ditilang.
Setibanya di kampus Angger menunggu kuliah yang satu jam lagi akan dimulai.
Dia pun langsung menuju kantin dan memesan kopi sambil menyalakan rokoknya. Di depannya ada gerombolan mahasiswa semester 3 yang sedang asyik bercanda dan membuat kantin yang biasa tenang menjadi ramai. Salah satu orang datang dan memberikan informasi razia yang ada di perempatan lampu merah jalur Angger menuju kampus.
“Sialan tadi ada razia”
“Tanggal berapa sih sekarang?”
“Tanggal 25 sih”
“Pantesan anjing pada cari makan hahaha”
Sekumpulan mahasiswa yang masih junior Angger itu pun tertawa mengolok para aparat.
Namun dalam benaknya, Angger mengutuk kepengecutan mereka yang hanya berani main belakang. Atau yang biasa orang jawa sebut dengan ungkapan “wani silit ra wani rai”.
…
Seminggu berlalu. Angger pun sudah menjalani sidang pelanggaran lalu lintasnya. Dia harus mengambilnya walau dengan cara berhutang pada temannya. Kejadian penilangan itu membuat Angger mematuhi lalu lintas. Terlebih di saat dia belum bekerja dan masih kuliah. Kini dia selalu menancap gas motornya saat lampu telah menyala hijau. Namun kepatuhannya pada lalu lintas terkadang membuat dia diumpati oleh para pengendara.
…
Tidak hanya di lampu merah berjarak 2 km dari kampusnya, namun di manapun ada lampu merah berhitung, Angger mematuhinya dengan taat. Dia selalu memutar tuas gasnya sampai lampu benar-benar menyala hijau. Dan di manapun, dia selalu mendapat umpatan walau dia mematuhi lalu lintas dengan taat. Akhirnya dia menciptakan sebuah cara untuk melakukan pemberontakan sosial. Sebuah pemberontakan dengan tidak memberontak atau tidak melanggar peraturan lalu lintas yang sudah ada.
Kini dia santai-santai saja saat harus berhenti di lampu merah. Kini dalam mindset nya seorang pelanggar lalu lintas adalah seorang pengecut. 30 detik hitungan mundur lampu merah menyala, Angger tenang. 20 detik , dia masih tenang. 3 detik tangannya masih belum menggenggam gas dan telah banyak para pengendara yang menerobos lampu merah karena tidak ada razia. 1 detik setelah lampu hijau, Angger mulai ugal-ugalan. Dia melaju mengejar para pengendara dan mendahului mereka. Ada kepuasan setelah melakukan itu. Seperti telah membalas pengkhianatan yang dilakukan massa selama ini olehnya. Setidaknya begitulah yang ada dalam pemikiran Angger sampai saati ini.
…
Musim kemarau di pertengahan September. Masih di perempatan lampu merah yang menunjukkan detik. Dan waktu itu juga digelar razia. Angger melihat seorang aparat berseragam doreng tanpa helm menggeber gas sepeda berpersneling miliknya. 30 detik hitungan mundur lampu merah, seperti biasa Angger santai saja. Malah kadang dia mematikan mesin motornya demi menghemat bahan bakar. 20 detik mesin motor Angger masih mati. 10 detik Angger baru menghidupkan mesin motornya. Pada detik ke- 5 menuju lampu hijau, aparat berseragam doreng menggeber dan membunyikan klakson motornya tidak sabar. Dan pada detik ke- 3 menuju lampu hijau, aparat itu melesat.
Angger masih menunggu pada 1 detik menuju lampu hijau. Dan pada saat lampu hijau benar-benar menyala, dengan reflek yang tangkas Angger melesat bagai kesetanan. Riuh sesak jalanan tidak dia hiraukan, begitu pula dengan klakson-klakson yang berteriak. Seakan semua panca indera dan molekul pada tubuhnya tertuju pada satu tujuan. Mengejar dan memenangkan balapan melawan aparat erseragam doreng tadi.
Angger heran, kenapa para polisi tidak menilang aparat tadi?. Angger juga mengira kalau polisi takut karena mereka kalah jabatan dan gertakan. Tapi dalam pikirannya, tak peduli siapapun itu. Jika ada yang salah dan mereka ngotot membenarkan apa yang mereka lakukan. Mereka adalah pengecut.
Setelah menang 1,5 meter dari aparat berdoreng tersebut, langsung saja Angger memotong jalur. Sang aparat kaget. Berusaha mengerem namun tak sebanding dengan kecepatan laju motornya. Hingga dia pun jatuh terpelanting beserta motornya.
Salah seorang polisi mengejar Angger. Dan langsung menggiring Angger ke pos penjagaan polisi. Dan di sana, seorang aparat berseragam doreng marah-marah dan memaki-maki semua polisi yang bertugas.
“Maaf pak, tadi saya terburu-buru” jelas Angger
“Tapi ya jangan ugal-ugalan dong mas kalau berkendara. Anda kan tahu sendiri jalur ini jalur sibuk kendaraan bermotor. Ya sudah, anda saya tilang”
“Mana dia?” bentak sang aparat berdoreng emosi.
“Mau jadi jagoan kamu hah?”.
Aparat berdoreng tersebut memukul Angger. Namun dia hanya memukul udara kosong karena Angger sigap menghindari pukulannya. Berniat mau melancarkan serangan kembali, para polisi yang bertugas dengan cekatan menenangkan aparat berdoreng tersebut.
“Kalau saya ditilang ya boleh saja pak polisi. Asalkan beliau juga ditilang”.
Kata Angger yang berupaya bernegosiasi. Sang aparat berdorengpun mukanya merah padam karena tenggelam dalam amarah. Dia memaki-maki Angger namun dia menanggapi dengan tenang sembari waspada. Ada saat di mana mata Angger mengamati keadaan saat itu. Dan pikirannya tertuju pada pistol yang bertengger tenang di salah satu pinggang polisi yang sedang bertugas.
Dengan muka tenang dan meminimalisir hawa keberadaannya, Angger mendekati pistol itu dengan mengira-ngira. Karena dia berpikir akan ketahuan jika dia terus melihat pistol itu dan pergerakannya pasti akan dengan mudah dibaca.
Momentum tengah berpihak pada Angger. Dengan lincah dia menodongkan pistol yang dicurinya dan langsung menodongkannya pada kepala aparat berdoreng yang marah-marah. Tanpa pikir panjang dia langsung menarik pelatuk sebanyak dua kali.
Suasana hening. Sang aparat kini meregang nyawa tanpa merasakan nazak. Seolah malaikat Izrail bersemayam dalam peluru yang ditembakkan Angger tepat menembus otaknya. Teriakan pengendara wanita banyak terdengar. Para ibu menutup i mata anak mereka agar mimpi buruk tidak menjalari waktu malam. Sebagian orang menutup mulutnya. Sebagian menampakkan wajah simpati. Segenap polisi yang bertugas kaget. Sepersekian detik mereka bingung atas apa yang akan mereka lakukan.
Dengan mata tenang dan dingin, sesekali seringai tampak pada wajahnya yang teduh. Setelah membunuh, Angger langsung melempar pistol dan mengangkat kedua tangannya. Para polisi masih tertegun menghadapi shock therapy yang dilakukan Angger.
“Pak polisi, apa yang sedang kalian lakukan? Cepat tangkap aku. Aku bukanlah pengecut seperti mayat itu. Aku melanggar peraturan. Dan aku akan bertanggung jawab”.
Teriakan Angger membangunkan para polisi yang sedang dikejutkan dengan sebuah kejadian yang memberontak pada sosial dan rentetan rutinitas yang membosankan. Segenap polisi pun langsung meringkusnya. Tak ada penyesalan pada wajah Angger waktu itu. Dia juga tidak peduli akan efek setelah pemberontakan sosial yang dilakukannya. Dia hanya ingin membunuh.***
Editor : Sultan Achmad