Oleh: Ubaidillah Ichsan
“Don’t let your tongue mention the shortcomings of others, because you also have flaws and other people have tongues”
“(Lidahmu jangan kamu biarkan menyebut kekurangan orang lain, sebab kamu pun punya kekurangan dan orang lain pun punya lidah)”
Dalam hidup ini, hal yang sangat penting untuk dijaga setiap manusia adalah lisannya.
Bukan berarti perbuatan tidak penting untuk dijaga, akan tetapi ketika seseorang menyakiti orang lain dengan perbuatannya, maka jelas terlihat dengan fisik yang disakiti dan bisa diobati, tetapi ketika sesorang menyakiti dengan lisan, ia tidak terlihat secara fisik dimana yang disakitinya, karena yang sakit ada di hati dan tidak terlihat secara fisik, maka dari itu lisan sangat penting untuk dijaga.
Dalam sebuah maqolah/perkataan
سلامة الإنسان في حفظ اللسان
Artinya :
“Keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan.”
Pada hakikatnya Allâh Swt menganugerahkan lisan kepada manusia adalah untuk memudahkan berkomunikasi dengan orang lain dan Keberadaan lisan bagi manusia banyak memberikan manfaat dan juga bisa menjadi sumber Mala petaka.
Dalam ajaran Islam, setiap muslim hendaknya menjaga lisannya dari hal-hal yang tidak terpuji.
Ada ungkapan “Lisanmu cerminan kepribadianmu” maksudnya adalah dari lisan seseorang bisa kita ketahui kualitas dan kepribadiannya.
Maka sebagai hamba Allâh Swt yang tak luput dari kesalahan,terkadang kita sering tak sadar mengucapkan kalimat yang menyakiti hati orang lain, menganggapnya sebagai hal yang biasa saja, akan tetapi bagi orang lain ucapan kita dinilai buruk sehingga menimbulkan kebencian.
Dalam riwayat Abu Hurairah r.a berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ،….
Artinya:
“Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam, ….. (HR. Bukhari No. 6018, 6019, 6136, 6475 dan Muslim No. 47)
Makna hadits di atas adalah jika kita beriman kepada Allâh Swt dan hari akhir hendaklah Berhati-hati dalam menggunakan lisan karena sebuah ucapan bisa menjerumuskan kita ke dalam api neraka. Apabila kita tidak mengetahui sebuah perkara dengan pasti, sebaiknya kita diam saja.
Dan janganlah kita mengucapkan perkataan yang menyakiti hati orang lain, sekalipun itu hanya candaan. Sebab di akhirat kelak, segala apa yang kita ucapkan dengan lisan pasti akan diminta pertanggungan jawaban.
Allah Swt berfirman,
مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Artinya:
“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.”(Qs.Qaf : 18)
Dan hendaklah kita menjaga lisan dari hal-hal yang tidak kita ketahui dan tidak memiliki kapasitas keilmuannya. Allâh Swt berfirman,
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًا
Artinya :
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”(Qs.Al-Isra : 36)
Maksud ayat di atas adalah dalam setiap pembicaraan yang tidak jelas maslahatnya, atau mungkin kita tidak memiliki ilmu dalam bidang tersebut,maka sebaiknya kita diam saja.
Berbicara sesuatu yang salah atau buruk justru membuat kita terjerumus ke dalam neraka jahannam.
Imam Al-Syafi‘i menjelaskan pula: “Apabila seseorang ingin berbicara, hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga nampak maslahatnya.”
Daripada mengunjing atau membicarakan sesuatu yang tidak bermanfaat, lebih baik jika kita diam sambil memperbanyak istighfar.
Agar kita terjaga dari keburukan lisan dan semakin dekat kepada Allâh Swt, Maka Rasulullah Saw mengajarkan kepada kita untuk membaca doa ini :
اَللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِى، وَمِنْ شَرِّ بَصَرِى، وَمِنْ شَرِّ لِسَانِى، وَمِنْ شَرِّ قَلْبِى، وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّى
Artinya:
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan pendengaran, penglihatan, lisan, qalbu, dan kemaluanku.” (HR. Abu Dawud No. 1551, HR At-Tirmidzi No. 3492)
Semoga setelah mengetahui bahaya lisan kita semakin berhati-hati dan lebih waspada dalam menggunakan lisan dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga bermanfaat.
Editor : Sultan Achmad