Oleh Hanum Habibah
Hampir semua orang pernah mengalami rasa marah. Dari yang berkadar ringan sampai berat. Dari yang hanya menampakkan muka cemberut sampai peristiwa yang mengundang maut.
Sumber kemarahan bermacam-macam, mulai dari keluarga dekat, teman dekat, tetangga, rekan kerja bahkan bisa dari seseorang yang belum dikenal sekalipun.
Marah merupakan suatu kondisi ketika seseorang merasa sangat tidak senang karena diperlakukan tidak sepantasnya.
Rasa marah sebenarnya adalah hal yang wajar, bila rasa marah itu ditimbulkan oleh suatu kesalahan yang nyata. Namun ada juga kadangkala seseorang merasa marah oleh sebab yang tidak jelas.
Marah yang kedua ini yang cenderung menimbulkan masalah. Karena biasanya orang yang kena marah akan merasa sakit hati dan dendam luar biasa karena tanpa sebab musabab menjadi sasaran kemarahan.
Sebenarnya ada sisi positif dari kondisi rasa marah. Ketika seseorang marah maka neuro transmiter dopamin akan lebih banyak diproduksi. Berikutnya akan merangsang sekresi hormon epineprin yang akan memacu detak jantung, meningkatkan suhu tubuh, melebarkan pupil yang pada akhirnya seseorang yang sedang marah akan lebih dapat mengekspresikan perasaannya.
Ada sisi negatif juga dari kecepatan detak jantung. Bila seseorang yang sudah memiliki bawaan sakit jantung, maka kondisi ini akan lebih diperparah oleh cepatnya detak jantung akibat rasa marah
Meski ada sisi positifnya, jika rasa marah itu ditempatkan pada tempat yang tidak proporsional, maka rasa marah akan cenderung melahirkan perilaku-perilaku yang buruk.
Efek dari peluapan rasa marah diantaranya adalah timbul permusuhan, melukai baik fisik maupun psikis, perseteruan, dan yang paling berat adalah pembunuhan. Efek yang paling ringan adalah munculnya kata-kata kasar yang sangat tidak layak untuk didengar.
Bila dikeluarkan dalam bentuk bahasa lisan, maka kata-kata yang keluar menjadi sangat pedas. Bila ada dalam bentuk tulisan, maka kata-kata itu sangat tidak beraturan dan berkesan emosional.
Bila rasa marah itu terjadi pada pasangan suami istri, keduanya harus pandai-pandai mengelola emosi. Tak jarang karena emosi yang tidak terkendali muncul kata-kata cerai dari pihak suami, atau permintaan cerai dari pihak istri.
Bila rasa marah itu terjadi pada pasangan yang sedang merajut mimpi untuk merenda masa depan, sama saja. Harus pintar mengendalikan diri. Banyak hal-hal terjadi dalam perjalanan menuju mahligai pernikahan. Namun tidak sedikit yang menyelesaikan dengan percekcokan dan pertengkaran, bahkan berakhir dengan pembunuhan.
Bila rasa marah itu terjadi pada siapapun dan dimanapun, kuncinya satu. Harus bisa mengendalikan diri. Dalam sabda Rasulullah SAW ada salah satu cara menghindari kemarahan yaitu dengan diam.
Dengan diam bisa sedikit demi sedikit mengatur nafas, sehingga detak jantungpun kembali normal, suhu tubuh juga normal dan tentu dapat merenungkan kembali apa yang sebenarnya terjadi. Kesehatan fisik dan psikis dapat dipertahankan dengan mengurangi intensitas rasa marah.***
Editor : Sultan Achmad