MuhammadiyahJombang.Com – Guru adalah orang yang memiliki tugas untuk mendidik dan membagikan ilmu kepada orang lain sehingga guru juga disebut sebagai pendidik.
Dalam perspektif Islam, guru tidak bisa dipisahkan dengan sosok orang yang beriman dan berilmu, yang berjasa mengantarkan manusia kepada kebaikan.
Guru adalah obor kehidupan manusia, tanpa keseriusan perjuangan dan pengorbanan mereka mustahil manusia memperoleh peradaban dan kejayaan ilmu pengetahuan.
Pada hakekatnya tugas yang diemban oleh seorang guru sebenarnya hampir sama dengan tugas seorang rasul sebagai utusan Allah.
Sebagaimana Rasulullah SAW, gurulah yang membacakan, menyampaikan, dan mengajarkan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis nabi kepada orang lain dan menerangkan mana yang halal dan haram sesuai dengan yang ditetapkan oleh Allah dan RasulNya.
Maka wajarlah seorang guru itu memperoleh kedudukan dan kemuliaan yang tinggi.
Di dalam Al-Qur’an disebutkan tingginya kedudukan para guru dan mulianya profesi mereka.
“Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat” QS. Al-Mujadalah: 11).
Dalam hadis juga disebutkan oleh rasulullah SAW bahwa, “Sesungguhnya Allah dan para Malaikat, serta semua makhluk di langit dan di bumi, sampai semut dalam lubangnya dan ikan di lautan, benar-benar mendoakan kebaikan bagi orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia” (HR. At-Tirmizi).
Hadis lain yang senada dikatakan bahwa, “Sesungguhnya orang yang memahami ilmu agama dan mengajarkannya kepada manusia akan selalu dimohonkan ampunan dosa-dosanya oleh semua makhluk yang ada di langit dan di bumi, termasuk ikan-ikan di lautan” (HR. Abu Daud).
Oleh sebab itu kita perlu memuliakan dan memperlakukan guru dengan baik, sebagaimana yang tergambar dalam kisah Nabi Musa bersama khidir (QS. Al-Kahfi: 66).
Para sahabat juga telah memberi contoh yang baik bagaimana seorang murid beradab dan memuliakan guru. Abu Said Al-Khudri menceritakan, “Saat kami sedang duduk di masjid, tiba-tiba datang Rasulullah SAW kemudian dia duduk dihadapan kami, maka seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung, tak satupun dari kami yang berbicara (HR. Bukhari).
Sebuah gambaran adab yang sangat mulia dari murid kepada gurunya.
Umar bin Khattab ra. berkata: “Tawadhulah kalian terhadap orang yang telah mengajarkan kalian”. Karena sifat tawadhu’, santun dan merendahkan diri kepada guru adalah kuncinya ilmu.
Dalam sebuah syair juga disebutkan: “ilmu tidak mungkin diperoleh oleh seseorang yang sombong sebagaimana air tidak akan mengalir ketempat yang lebih tinggi.
Dari sisi yang lain seorang murid haruslah mencintai ilmu. Mencintai ilmu berarti harus mencintai dan menghormati orang yang memberi ilmu yakni seorang guru. Itulah cara yang dilakukan oleh para ilmuwan dan ulama terdahulu dalam meraih keberkahan dari ilmu yang diperolehnya.
Dalam kehidupan sehari-hari, hubungan antara guru dengan murid haruslah dekat. Artinya keduanya harus saling mencintai karena Allah,
Murid mencintai guru karena hormat dan sayang pada guru dan guru mencintai murid sebagai amanah.
Mencintai guru merupakan kewajiban bagi semuanya agar ilmu dan hidup kita berkah.
Menghargai jasa seorang guru tidaklah cukup hanya dengan mengingatnya saja. Akan tetapi hendaknya dengan memuliakan, memberikan penghormatan, mengirimkan doa, dan jika mampu berbuat lebih maka berikanlah sebagian dari rezeki yang diperoleh.
Wallaahu a’lam.
Penulis : Taufiq faletehan
Editor : Sultan Achmad