Oleh Bening Rahayu Cahyono
Siswi kelas 8 SMP Muhammadiyah 3 Jombang
Muhammad Astara Alexander, seorang remaja yang sudah berusia 18 tahun.
Astara adalah seorang anak tunggal dari keluarga berada, dia bersekolah di SMA Swasta.
Astara di kenal sebagai murid yang nakal di sekolahnya, karena sering membolos, merusak fasilitas sekolah, dan masih banyak lagi.
Namun, semua itu ia lakukan karena ada alasan besar yang ia sembunyikan.
Suatu hari, Astara sedang berada di belakang sekolah, karena dia terlambat dan gerbang sekolah sudah ditutup.
Maka, Astara memutuskan untuk masuk dengan cara memanjat dinding belakang sekolah, agar bisa masuk ke dalam.
Namun, ketika dia sudah berhasil masuk ke dalam, Astara ditemukan oleh Guru BK yang bernama Bu Karina.
“Astara! alasan apa lagi kali ini?” tanya Bu Karina sambil melipat tangan dan sorot mata yang tajam.
“Maaf Bu, tadi di jalan macet,” jawab Astara dengan gugup.
“Alasan klasik, lalu kenapa kamu kemarin membolos saat jam pelajaran?” tanya Bu Karina dengan nada yang kesal.
“Saya ada acara mendadak bu,” jawab Astara.
“Kenapa kamu tidak izin?” tanya Bu Karina lagi.
“Maaf Bu saya lupa.” Astara menundukkan kepalanya, merasa bersalah.
“Saya tidak menerima alasan kamu. Sekarang, sebagai hukumannya kamu bersihkan taman di belakang sekolah,” ucap Bu Karina sambil memberikan hukuman, lalu Bu Karina pun pergi meninggalkan Astara sendiri.
“Baik bu.” Astara mulai mengerjakan hukumannya, dengan perasaan sedikit kesal.
***
Setelah selesai mengerjakan hukuman yang di berikan Bu Karina, Astara pergi ke kantor guru untuk mengumpulkan PR Fisika.
“Permisi Bu,” ucap Astara sambil mengetuk pintu.
“Masuk saja, ada apa?” tanya Bu Rora, yang merupakan guru fisika.
“Saya ingin mengumpulkan PR yang telah ibu berikan kemarin.”
Astara masuk ke dalam kantor dan menghampiri Bu Rora untuk memberikan tugasnya.
“Tadi saat jam pelajaran pertama saya mengajar di kelas 12B, itu kelas kamu kan? kamu di mana?” tanya Bu Rora.
“Iya Bu, benar itu kelas saya. Maaf Bu, tadi saya terlambat jadi di hukum Bu Karina membersihkan taman belakang sekolah,” jawab Astara.
“Ya sudah tidak masalah, tapi lain kali jangan di ulangi lagi,” ucap Bu Rora memberikan peringatan.
“Baik Bu. Terimakasih atas pengertiannya, saya izin pamit pergi ke kelas Bu,” ucap Astara meminta izin.
“Silahkan,” ucap Bu Rora memberikan izin.
Setelah mendapatkan izin dari Bu Rora, Astara pergi meninggalkan kantor dan berjalan menuju kelasnya di 12B.
“Astara sebenarnya murid yang pintar,” celetuk Bu Rose guru Matematika, yang meja nya tidak jauh dari meja Bu Rora.
“Iya. Nilainya selalu tinggi, rata-rata 90 ke atas, baik itu nilai tugas, ulangan harian, bahkan ujian. Tapi sayang karena perilakunya yang sering terlambat, membolos, dan membuat masalah, jadi nilainya harus di kurangi. Coba saja dia tidak melakukan itu semua, dan menjadi anak yang baik dan rajin. Mungkin dia bisa mendapatkan juara umum 1, bahkan mungkin bisa menjadi lulusan terbaik,” ucap Bu Rora menjelaskan.
Setelah itu mereka melanjutkan pekerjaan masing-masing.
***
Pada malam hari di rumah Astara, dia baru saja pulang setelah membantu tetangganya.
Astara pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri, setelah selesai membersihkan diri, dia lalu pergi ke dapur untuk memasak, saat makanan yang telah dia buat jadi, Astara pergi ke meja makan untuk memakan makanan yang telah dia buat.
“Papa, Mama kapan ya pulang? sebentar lagi acara kelulusan ku akan tiba, mereka bisa datang ga ya? semoga saja bisa.”
Astara menghela nafasnya. Jujur saja dia capek harus menjalani semuanya sendirian, di rumah dia tinggal sendiri karena orang tua sibuk bekerja dan jarang pulang, sedangkan di sekolah dia tidak mempunyai teman.
“Apa aku coba telfon Mama? untuk menanyakan apakah saat hari kelulusan Mama sama Papa bisa datang,” ucap Astara bertanya pada diri nya sendiri.
“Ya udah lah telfon aja.” Astara mengambil handphonenya untuk menelfon sang mama.
Setelah beberapa panggilan, akhirnya mama Astara menjawab telponnya.
“Assalamualaikum Ma,” ucap Astara.
“Waalaikumsalam Nak, ada apa?” jawab Mama Astara.
“Astara cuma mau nanya Ma, bisa ngga Mama sama Papa datang ke acara kelulusan Astara nanti?” tanya Astara dengan gugup.
“InsyaAllah ya Nak, soalnya Mama sama Papa di sini masih banyak kerjaan” jawab Mama Astara.
“Tolong ya Ma, kali ini aja tolong datang. Dulu saat kelulusan SD dan SMP nya Astara kalian bilang bakal datang, ternyata ngga. Jadi tolong di kelulusan SMA ku ini kalian datang ya Ma. Aku sudah berusaha untuk mendapatkan nilai yang bagus seperti keinginan kalian, jadi Astara mohon kalian datang. Walaupun sebentar juga gapapa yang penting kalian datang, supaya aku bisa merasakan punya keluarga Ma, jujur aku iri liat teman-teman ku bersama keluarganya sedangkan aku sendirian. Sudah cukup uang yang selama ini kalian kasih, aku cuma ingin merasakan kasih sayang keluarga Ma. Sekali lagi Astara mohon ya Ma kalian datang,” ucap Astara dengan menahan rasa sesak di dadanya dan air mata yang ingin keluar.
“Mama minta maaf ya Nak, selama ini Mama dan Papa sibuk bekerja sampai kurang memberikan perhatian dan kasih sayang untuk kamu. Mama dan Papa akan usahakan untuk datang ke acara kelulusan SMA mu nanti,” ucap Mama Astara dengan suara bergetar menahan tangis.
“Janji ya Ma?” tanya Astara dengan berharap.
“Iya Mama janji, tapi kamu janji ya, jangan nakal dan membuat masalah lagi?” ucap Mama Astara.
“Astara janji ga bakal nakal dan membuat masalah lagi kalau kalian datang,” ucap Astara dengan yakin.
“Ya udah Mama matikan ya telfon nya udah malem, kamu tidur sana. Good night,” ucap Mama Astara yang akan mematikan sambungan teleponnya.
“Good night too Mama,” jawab Astara sebelum sambung teleponnya terputus.
“Ya Allah semoga kali ini, Mama dan Papa menepati janjinya,” batin Astara berdoa.
***
Hari ini adalah hari kelulusan Murid SMA Negeri Swasta.
Namun, di saat murid lain hadir pada acara kelulusan tersebut dengan di temani orang tua mereka, hanya Astara yang hadir di acara tersebut sendirian.
“Ternyata mereka mengingkari janjinya lagi,” batin Astara setelah melihat chat dari Mama nya kalau tidak bisa datang, dia menghela nafas berusaha menghilangkan rasa sesak di dadanya.
Acara kelulusan pun dimulai, satu persatu siswa dipanggil maju keatas panggung untuk menerima ijazah mereka.
Setelah seluruh siswa menerima ijazah mereka masing-masing, sekarang di lanjutkan dengan pemberian penghargaan kepada para siswa yang masuk top 10 dengan nilai terbaik.
MC mulai membaca kan nama-nama siswa yang mendapatkan nilai terbaik, mulai dari belakang yaitu peringkat 10 hingga 3, hingga akhirnya yang ditunggu-tunggu adalah penerimaan penghargaan 2 dan 1.
“Yang mendapatkan peringkat 1 dan 2 sebagai siswa dengan nilai terbaik seangkatan adalah…” Suasana menjadi hening, semua orang menunggu dengan penasaran.
“Muhammad Astara Alexander sebagai peringkat 2. Sedangkan, Beyvaa Rahayu Putri sebagai peringkat 1. Kepada seluruh siswa yang telah di sebutkan silahkan naik ke atas panggung.”
Seluruh siswa yang telah di sebutkan, mulai maju satu persatu sesuai dengan peringkatnya.
Semua orang terkejut, ketika mengetahui bahwa siswa yang selama ini terkenal nakal, ternyata mendapatkan peringkat 2 sebagai siswa yang lulus dengan nilai terbaik seangkatan.
Beberapa siswa pun berbisik membicarakan Astara.
“Bagaimana bisa dia mendapatkan peringkat 2 sebagai siswa dengan nilai terbaik?” tanya salah satu siswa pada teman nya, dengan rasa penasaran.
“Aku juga bingung, kenapa dia bisa mendapatkan peringkat 2. sedangkan selama ini dia selalu membolos dan membuat masalah,” jawab teman siswa tersebut dengan bingung.
“Mungkin karena dia pintar. Walaupun dia nakal tapi dia selalu mendapatkan nilai yang tinggi, iya kan?” ucap salah satu teman mereka.
“Benar juga.” Mereka semua mengangguk karena setuju.
Astara naik ke atas panggung bersama dengan siswa lain yang telah di panggil.
“Selamat karena telah menjadi siswa dengan nilai terbaik top 10 seangkatan. Silahkan sampai pesan dan kesan kalian satu persatu, di mulai dari peringkat 10 terlebih dahulu.” Ucap MC memberikan mikrofon.
Satu persatu siswa menyampaikan pesan dan kesan mereka, sampai akhirnya giliran Astara pun tiba.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kepada kepala sekolah yang saya hormati, bapak/ibu guru yang saya hormati, serta teman-teman yang saya sayangi. Berdirinya saya di sini ingin mengucapkan banyak-banyak terimakasih kepada kalian semua. Kepada bapak/ibu guru terimakasih telah mendidik dan memberikan ilmu kepada saya selama saya bersekolah di sini, maaf selama ini saya telah membuat banyak masalah dan membuat kalian kerepotan. Saya juga ingin berterimakasih kepada teman-teman semua, maaf selama ini saya telah membuat kalian merasa tidak nyaman dengan perbuatan maupun perkataan saya. Semoga seluruh apa yang kita cita-citakan bisa terwujud. Sekian dari saya, Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.” Astara kembali ke tempat awal dia berdiri, setelah selesai berbicara.
Setelah semua selesai, Astara dan yang lain pun turun dari panggung dan kembali ke tempat duduk mereka masing-masing.
Acara selanjutnya pun di mulai, semua orang menikmati acara kelulusan tersebut dengan bahagia bersama teman dan keluarga mereka.
Sedangkan di sisi lain, Astara sedang duduk sendirian.
Lalu seorang Guru yang bernama Bu Rami pun menghampirinya.
“Astara, kenapa kamu sendiri di sini? Orang tua kamu kemana?” tanya Bu Rami kebingungan.
“Orang tua saya sibuk bekerja Bu, jadi tidak bisa datang untuk menemani saya di acara kelulusan ini,” jawab Astara dengan sedih.
“Sabar ya nak, ya sudah Bu Rami saja yang menemani Astara, bagaimana?” ucap Bu Rami menawarkan diri sebagai pendamping Astara karena merasa iba.
“Boleh, tapi kenapa selalu ibu baik sama saya? Selama saya bersekolah di sini, hanya Bu Rami yang selalu membantu, menemani, dan tidak membedakan saya dengan murid lain. Sedangkan guru lain malah menganggap saya murid yang nakal dan tidak bisa di atur,” tanya Astara penasaran.
“Ibu tau kamu anak yang baik, ibu sering lihat kamu membantu nenek penjual sayur di pagi hari, ibu juga sering lihat kamu memberikan makanan pada pengemis di dekat sekolah, sebenarnya masih banyak lagi kebaikan kamu yang tidak sengaja ibu lihat. Mungkin di mata orang lain, kamu adalah seorang anak nakal yang tidak bisa di atur, tapi di mata ibu kamu adalah anak yang baik dan suka menolong orang lain,” jawab Bu Rami dengan lembut.
“Tapi Bu, mau sebaik apapun perbuatan yang saya lakukan, saya tetap hanya lah siswa yang nakal dan sering membuat masalah.” Astara menundukkan kepalanya.
“Untuk seorang remaja seperti kamu, melakukan suatu kenakalan adalah hal yang wajar, perbuatan itu memang salah, tapi di situ lah peran orang tua dan guru di perlukan untuk membimbing kamu, untuk menjadi lebih baik lagi.” Bu Rami mengusap rambut Astara dengan lembut.
“Sebenarnya, saya sering membuat masalah di sekolah hanya karena ingin mendapatkan perhatian orang tua saya, mereka selalu sibuk dengan pekerjaan nya sampai tidak memperhatikan saya. Dulu mereka pernah bilang kalau ingin mempunyai anak yang pintar, jadi saya belajar terus menerus karena ingin membuat mereka bangga, hingga bisa selalu mendapatkan juara umum dari SD, saya kira dengan terus mendapatkan juara mereka jadi memberikan saya kasih sayang dan perhatian, tapi ternyata mereka tetap saja sibuk bekerja. Jujur saya kesepian, saya juga tidak mempunyai teman. Saya hanya ingin merasakan kebersamaan dan kebahagiaan dalam keluarga. Apa itu salah?” Astara menahan air matanya agar tidak keluar, saat bercerita tentang alasan kenapa selama ini dia selalu membuat masalah di sekolah.
Bu Rami, guru lain, dan beberapa murid yang tidak sengaja mendengar, akhirnya mengerti alasan dibalik semua perbuatan Astara.
Ternyata selama ini Astara hanya merasa kesepian, dan ingin mendapatkan teman.
AND
PESAN MORAL:
“Setiap orang memiliki cerita di balik sikapnya. Jangan menilai hanya dari apa yang terlihat diluar, karena setiap orang pasti mempunyai rahasia dan masalahnya sendiri.”
Editor : Sultan Achmad