KAU PANGGIL AKU, MBAK

Selasa, 15 Oktober 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto Ilustrasi (Pixabay)

Foto Ilustrasi (Pixabay)

Oleh : Hanum Habibah

 

Hujan baru saja reda setelah 2 jam turun membasahi bumi.

Aku melongok keluar. Kulihat halaman rumah sangat kotor. Daun-daun mangga jatuh berserakan sejak kemarin sore karena angin yang lumayan besar.

“ Sudahlah Tia, nggak usah disapu lagi. Kamu baru saja selesai menyapu, besuk pagi saja,” kata ibu kemarin.

Memang benar. Baru saja aku selesai menyapu halaman, angin besar datang, meluruhkan daun-daun yang belum saatnya gugur. Tadi pagi turun hujan. Lengkaplah sudah daun-daun itu lekat dengan tanah.

Segera aku ke belakang mengambil sapu. Di pintu dapur aku berpapasan dengan ibu. “Tia, hari ini pergilah ke pamanmu. Sudah dua tahun kamu lulus. Siapa tahu paman bisa membantumu mencari kesibukan dengan bekerja. Andai sudah ada calon suami pasti kamu sudah kami nikahkan. ”

Bagai di sayat sembilu, kalimat terakhir ibu sangat menyakitiku. Aku tidak suka. Apakah ini salahku? Ini kehendak Allah. Namun aku tetap tenang meski hati ini meronta-ronta. “Iya bu, tapi aku mau menyapu halaman dulu. Setelah itu aku ke rumah paman,” jawabku pelan.

Ku ayun ujung sapu ke kanan kiri, muka belakang membersihkah dedaunan itu. Kata-kata ibu mengingatkanku kepada seseorang yang kini sudah berbahagia berkeluarga. Terus mengembara ingatanku kepadanya.

*****

Sore itu mataku masih nanar memandang dua bocah yang berkejaran di halaman masjid kampus. Yang satu berbaju koko lengkap dengan kopyahnya. Baju koko putih yang sudah pudar putihnya, hingga cenderung berwarna krem. Yang satu berbusana stelan celana dan blus, lebih tepatnya baju tidur motif bunga-bunga yang hampir sama kondisinya dengan yang pertama. Dilengkapi kerudung panjang yang hanya diselempangkan dilehernya. Ahhh…aku menghela napas.

Alik, nama bocah laki-laki itu. Dira yang perempuan. Keduanya berusia sepantaran. Sama-sama kelas 6 SD. Sejak beberapa hari sebelumnya, aku menjadi sangat perhatian pada mereka. Terutama Dira. Bagaimana tidak. Mereka berkejaran seperti saudara kandung. Saling tarik, saling pegang dengan canda ria tiada habisnya.

Ini tidak boleh dibiarkan, batinku. mereka sudah aqil baligh.

Bulan lalu Dira tidak masuk belajar baca Al-Qur’an dengan alasan datang bulan. Hmmm…Anak sekarang. Kelas 6 sudah aqil baligh. Sementara dulu aku mendapatkannya ketika sudah duduk di kelas 3 SMP.

Mereka adalah sebagian murid ngajiku. Sore itu aku menjadi sangat perhatian kepada Dira, karena hari kemarinnya aku melihat dia bergelayut manja pada Imran. Pengajar ngaji anak laki-laki. Sedangkan aku dan beberapa teman perempuanku pengajar anak-anak perempuan. Mereka anak-anak kampung sekitar masjid kampus yang kami ajar membaca Al-Quran mulai dari tahap Iqro’.

Imran. Aku sering memanggilnya Dik Imran. Seorang mahasiswa jurusan Teknik mesin yang sangat sederhana. Tubuhnya kecil, rambut keriting, kulit coklat, berasal dari pelosok. Berkeinginan kuat untuk kuliah meski kedua orangtuanya tidak menghendaki karena masalah biaya.

Melihat hari kemarinya Dira bergelayut manja, entah mengapa aku merasa jengah. Tidak suka. Apakah dia belum tahu kalo Dira sudah aqil baligh? mengapa masih saja dianggap seperti Dira 2 tahun lalu yang benar-benar masih bocah?

Aku benar-benar dibuatnya masygul. “Kak Tia, hari ini aku belajarnya sama Kak Imran saja ya? Boleh kan?” rengek Dira kearahku. “Loh, kan ada kak Tia dan Kak Rini, mengapa harus ke Kak Imran, Dira kan perempuan,” sergahku. Memang terkadang kalo murid ngaji laki-laki sedikit yang datang, sementara yang perempuan banyak, maka Imran membantu mengajar yang perempuan. Karena memang harus disimak satu persatu.

Baca Juga:  PC Pemuda Muhammadiyah Sumobito Kirim Satuan KOKAM Untuk Ikuti Apel Siaga & Konsolidasi Kader di Perguruan Muhammadiyah Jombang

Rengekan Dira sore itu benar-benar membuatku jengkel. “Sudahlah mbak, biar Dira sama aku. Ini hanya Alik dan Hasan yang datang. Jadi aku leluasa, ” sahut Imran. ” Ya sudah dik, bawa sana, masih saja Iqro’ 3 dia, susah,” aku mengijinkan.

Kulirik Imran dengan ekor mataku.Takut Rini melihat. Benar-benar hilang konsentrasiku sore itu. Aku merasa ada sisi ruang batinku yang tersiksa. Apakah aku prihatin dengan cara bercanda Alik dan Dira yang kelewat batas, atau aku terusik dengan sikap manja Dira pada Imran? Entahlah…..

*****

“Mbak, seperti terburu-buru, ada apa?” tanya Imran demi melihatku bergegas meninggalkan ruang sekretariat Pramuka saat itu. “Mau pulkam dik, ayah sakit. Ini barusan aku dapat beritanya.” balasku lirih.

“Ke Kediri? Hampir malam begini?” sambungnya.” Iya .memang kenapa? jawabku. Ya Allah, mengapa aku berharap dia bilang mau menemaniku. Ah apa-apaan aku ini. Malulah.berharap yang bukan bukan.

“Ayo dik aku duluan ya.Langsung ke terminal ngejar bus terakhir,” aku pamit. “Mbak, biar aku antar,” pinta Imran cepat.”Ah merepotkan saja,” cegahku setengah hati. Padahal entahlah aku menyesal berkata seperti itu.

Ah biarlah.Toh aku biasa pulang sendiri. “Tidak mbak, tetap aku antar,” tukasnya. “Ok.mari berangkat,” ajakku cepat.Sepanjang perjalanan kami lebih banyak diam.

Kulihat Imran sudah beberapa kali menguap. Kebetulan kami dapat tempat duduk berdampingan. “Tidurlah dek, kelihatannya kamu capek. Nanti kita maghrib isyak di rumah saja ya, jamak takhir,” hiburku melihat kegelisahan dia pas berkumandang adzan magrib dari ponselnya. “Iya mbak,” sahutnya. Lima menit kemudian dia sudah terlelap.

Imran.Kulirik wajahnya.Wajah yang akrab denganku karena kami sama-sama ikut di dua UKM yang sama. Kami satu angkatan. Entah mengapa dia memanggil mbak padaku. Mungkin karena aku duluan yang memanggilnya dik.

Aku memanggil adik karena tubuh mungilnya saat itu. Saat semester pertama perkuliahan. Kami akrab. Dia sering bercerita tentang keluarga di kampungnya. Bagaimana ayahnya yang seorang petani kecil harus membiayai ke enam adik-adiknya yang masih sekolah.

Imran sendiri kuliah sambIl bekerja part time. Sore sampai malam dia ikut membantu di percetakan. Kebetulan sore ini dia libur. Ada debar halus menyelimuti hatiku. Ah…tak berani aku melanjutkan anganku.

Tak lama setelah aku masuk rumah, petugas ronda malam memukul kentongan 10 kali. Oh sudah pukul 22.00 gumamku. Aku langsung menuju kamar bapak. Ibuku menemani Imran di ruang tamu.

Adikku hilir mudik membawa ember untuk mengganti air kompres. Aku tergugu di dekat bapak. Tumpah air mataku melihat bapak yang lemah. Badannya panas.

“Bapak sakit apa Fan?” tanyaku pada Irfan adikku.”Gak tahu mbak, tadi tiba-tiba bapak muntah-muntah dan lemes. Badannya panas,” jawab Irfan.

“Pak Rudi bilang apa?” sambungku demi melihat sudah ada obat dari mantri langganan kami. “Kalo sampai besuk muntah dan panasnya tidak reda, bapak disuruh ke rumah sakit,” sahut Irfan sambil keluar membawa ember tempat muntahan bapak.

Dan semalam kami gantian menjaga bapak. Imran sudah sejak tadi tidur di kamar Irfan.

“Nduk, siapa laki-laki itu? Mengapa kamu pulang dengannya?” tanya ibu setelah bapak terlelap. “Oh namanya Imran bu, anak Pacitan. Teman satu kampus beda jurusan.

Tadi nggak tega liat saya mau pulang sendiri, karena hari menjelang gelap.” jawabku berdebar. “Berarti dia tipe laki-laki tanggung jawab nduk,” sambung ibu lagi. “Emmm gitu ya bu?” tergagap aku menyahut. Ibu hanya tersenyum.

“Berarti sekarang duduk di semester 6, sama denganmu,” sambung ibu.” Iya bu,” jawabku singkat.

Baca Juga:  Bantu Warga, Dua Rumah Sakit Muhammadiyah Gelar Pengobatan Gratis Serentak di Jombang

“Sudah sana tidur kamu. Bapak biar ibu yang jaga,” perintah ibu penuh arti.

*****

“Tia, mbok sana nak Imran diajak jalan-jalan. Ini kan hari Minggu. Bapakmu sudah baikan. Biar nak Imran tahu kota Kediri,” kata ibu usai sarapan.

Aku terkejut. Nggak salah nih? Mengajak jalan-jalan laki-laki? Tapi sebenarnya jauh di lubuk hatiku aku suka. Ah..pikiran apalagi ini.

“Terserah dik Imran saja bu, mau atau tidak. Kalau bersedia mungkin nanti kita ke gunung Klothok saja bu. Cari udara segar,” sahutku lirih menunggu reaksi Imran. “Aku manut saja mbak,” jawabnya.
Yeeeee….hatiku girang bukan kepalang.

*****

“Indah ya mbak suasana disini,” kata Imran sesampainya di area wisata Gunung Klothok. “Tak kusangka, Kediri memiliki tempat wisata sebagus ini,” sambungnya.

“Ini belum seberapa dik, kalau nanti dik Imran memasuki Goa Selomangleng pasti lebih takjub lagi,” kataku berpromosi. “Boleh-boleh, mumpung ada yang ngajak ke sini gratis,” candanya sambil tertawa.

Kami berjalan bersisihan. Tak banyak kata yang bisa ku ucapkan. Aku lebih sibuk berusaha mengurangi degub jantungku yang semakin cepat.

Entahlah. Apakah Imran merasakan hal yang sama, karena dia juga lebih banyak diam. Sesekali tertawa melihat kelucuan dan kepolosan anak-anak kecil yang merengek-rengek minta ini itu kepada orang tuanya.

Menjelang dhuhur ,roda angkot menggelinding membawa kami pulang dan segera bersiap untuk kembali ke Solo kota tempat kami menuntut ilmu.

*****

“Tia, data terakhir segera kamu ambil agar kamu bisa lulus tepat waktu!” perintah Bu Indah dosen pembimbing skripsiku. “Baik bu, segera akan saya laksanakan,” jawabku mengangguk.

Akupun segera bergegas ke perpustakaan untuk menggenapi referensi yang kurang. Anganku melayang ke Imran. Kuamati Imran belum mengerjakan ini meski kami masuk di tahun yang sama.

“Dik, kamu belum mulai ambil data?” tanyaku pelan di suatu sore usai mengajar ngaji anak-anak seperti biasanya. “ Belum mbak.Aku belum skripsi semester ini. Mungkin molor juga lulusku,” jawabnya.

“Lho..lha kenapa?” tanyaku lagi.

“Ada banyak faktor mbak, mbak gak usah ikut mikir, nanti jadi ikut pusing.” katanya terkekeh. “Baiklah, tapi jangan lama-lama ya molornya, tua di kampus nanti,” candaku.

Memang harusnya aku nggak ikut mikir. Tapi entah mengapa aku sedih. Sebentar lagi aku lulus. Berarti pula aku harus berpisah dengan dia.

Sampai detik ini, belum ada satu laki-lakipun yang mendekatiku.dalam arti menyatakan suka.Imran memang dekat, tapi belum pernah menyatakan suka. Berkali-kali ibu menanyaiku tentang ini.

“Belum ada bu, ibu tenang ya, jodoh di tangan Allah,” jawabku saat itu berusaha menenangkan ibu. Meskipun aku sendiri juga gusar.

Usiaku sudah 23 tahun.sebentar lagi menyandang gelar sarjana. Tapi belum ada seorang laki-laki yang dekat denganku. Imran? Ah..laki-laki itu. Yang kupanggil adik. Andai dia menyatakan suka, ah..mana mungkin.Dia sudah menganggap aku ini mbaknya.

*****

Sampailah aku pada fase terberat dalam hidupku. Aku lulus. Aku mencari Imran ke tempat kerjanya. “Wah jadi lulus tepat waktu, selamat ya mbak,” ucapnya memberi selamat.

“Terimakasih, nanti pas aku wisuda datang ya, biar bertemu dengan keluargaku juga. Masih ingatkan ketika itu?” aku mengingatkan Imran bahwa dia pernah mengantar aku pulang saat ayah sakit.

“Insyaallah mbak,aku usahakan,” jawabnya. Ketika aku pamitan, dia tenang tenang saja. Padahal aku mengharapkan lebih. Sedihlah, merasa kehilanganlah, atau apalah karena kami sudah bersama-sama dalam dua kegiatan hampir 4 tahun. Sampai di kost an aku menghambur ke kamar. Menumpahkan segala rasa yang menyesakkan dada.

Baca Juga:  PDM Jombang Resmikan Gedung RKB di SMK Muhammadiyah 2 Jogoroto

Imraaann aku suka kamu. Mengapa engkau tak mau tahu, jeritku dalam hati. Seharian itu aku mengurung diri di kamar.

*****

Hari prosesi wisuda berjalan hambar. Hadir lengkap kedua orang tua,adik serta paman dan bibiku. Kutengok kiri kanan sebelum memasuki area wisuda. Namun sosok itu tak ku temukan. Imran.
Kemana kamu Mran? Tergugu aku menahan buliran bening ini.Sampai prosesi berakhirpun tak nampak. Keterlaluan kamu Mran. Tapi sebenarnya aku malu. Imran itu siapa. Apa hakku memaksa dia hadir?

Sore hari seluruh keluargaku sudah pulang ke Kediri. Sementara aku masih harus ngurus ini itu di kampus. Rasa berdiri diatas satu kaki diri ini. Harusnya aku senang lulus kuliah, segera pulang kampung dan mengamalkan ilmuku untuk bangsa dan negara. Namun aku enggan meninggalkan kota ini. Kota kenangan yang aku takut hanya aku yang merasakan.

*****

“Kak Tia, ada yang mencari kakak,” kata Arini adik kostku sambil mengetuk pintu. “Putra or putri?” tanyaku setelah tubuh Arini berdiri di depan pintu. “Putra,” sahutnya cepat. Imran kah? Harapku dalam hati. Ah…“Iya sebentar, aku pasang jilbab dulu, makasih yaaa,” bergegas aku memasang jilbab.

Berharap Imran yang datang, segera aku ke ruang tamu. Hampir terpekik aku ketika memang benar-benar Imran yang ada di depanku saat itu, namun seketika ciut nyaliku ketika tahu ada seorang gadis cantik berjilbab kuning duduk di sebelahnya.

“Oh dik Imran, apa kabar dik?” tanyaku basa basi sembari menahan debaran jantungku. “Kabar baik mbak. Mohon maaf aku tadi gak bisa ikut menyaksikan mbak saat memakai toga dan menghormati keluarga mbak yang menghadiri wisuda,” jawabnya. “Oh gak apa-apa,” jawabku berusaha bersikap biasa saja.

Obrolanpun berlangsung hambar. Tiada canda tawa seperti biasanya. Entahlah. Mungkin karena ada gadis cantik itu yang membatasi Imran dan juga aku yang mungkin dilanda rasa cemburu.

Akhirnya sampai juga pada kalimat yang membuyarkan harapanku. Memangkas habis benih-benih rasaku kepada Imran.

“Mbak perkenalkan, ini Mutiara.dipanggil Ara.Nama yang sama dengan mbak. Lengkapnya Mutiara Andhini. Bukan Mutiara Laksmita. Jurusan managemen semester 6. Dari Pasuruan,” kata Imran memperkenalkan sambil tertawa.

Aku menjabat tangan gadis cantik itu dengan perasaan yang sulit dikatakan. “ Oh iya…saya Mutiara Laksmita, panggil kak Tia,” jawabku lirih. Sambil berusaha tegar aku paksakan beramah-tamah,

”Dik Ara, itu Mas Imran suruh cepat lulus ya, jangan molor,” ucapku tergelak. Ara hanya tersenyum simpul, menambah kecantikannya.

Serasa runtuh dunia ini. Tanpa minta penjelasanpun aku sudah tahu bahwa gadis itu adalah pilihan Imran. Sampai mereka pamitpun aku masih merasa berdiri di awang-awang.

Setelah kedatangan Imran dan Ara malam itu, aku tidak lagi kerasan tinggal di Solo. Kota tempat aku menuntut ilmu selama 4 tahun. Setelah urusan usai akupun mengemasi seluruh barang-barangku dan pulang ke kampung halamanku.

“Tia…Tia…ada telepon dari pamanmu. Kamu ditunggu sekarang!” teriak ibu membuyarkan lamunanku. Ah….Imran…andai kita tidak saling memanggil adik dan mbak apakah kita bisa bersatu? Terlalu rumit dan penuh misteri kisah kita. “Iya bu, sebentar,” jawabku sambIl membuang dedaunan ke lubang sampah di pojok halaman depan.

Imran… meski kau tak lagi sebagai “adik” ku, aku berharap kau tetap mengingatku sebagai “mbak” mu. Halamanpun kini bersih, namun tak sebersih hatiku akan kenangan bersama Imran.***

Editor : Sultan Achmad

Berita Terkait

Bir Pletok Buat Juragan Kontrakan
Suara Perempuan Di Ujung Nafas
Astara
Tangan 1
IJAJIL

Berita Terkait

Rabu, 19 Februari 2025 - 20:50 WIB

Bir Pletok Buat Juragan Kontrakan

Rabu, 5 Februari 2025 - 20:54 WIB

Suara Perempuan Di Ujung Nafas

Senin, 13 Januari 2025 - 18:12 WIB

Astara

Jumat, 6 Desember 2024 - 23:10 WIB

Tangan 1

Selasa, 15 Oktober 2024 - 08:06 WIB

KAU PANGGIL AKU, MBAK

Berita Terbaru

Siswa MIM 10 Jombang mengumandangkan adzan

Pendidikan

MIM 10 Jombang Gelar Program Life Skill Ramadhan

Jumat, 14 Mar 2025 - 07:53 WIB