oleh: Lukman Prayogi
Guru/Pengajar SMP Muhammadiyah 3 Jombang
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا
لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ, وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ . رَوَاهُ مُسْلِمٌ*
Alhamdulillah kita ucapkan sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Allah SWT.
Atas izin Allah kita masih bisa bernafas dan menghirup udara.
Dengan izin Allah kita masih diberikan kesempatan untuk menikmati hidup di dunia ini.
Sebab berapa banyak orang di luar sana yang tidak mampu mensyukuri nikmat yang sangat agung ini.
Ada dua nikmat yang patut kita syukuri pada siang hari ini, yang pertama adalah nikmat sehat, mengapa sehat ini kita sebut sebagai nikmat? Bayangkan jika tubuh kita tidak sedang dalam kondisi sehat.. Maka yang terjadi adalah kita tidak mungkin melangkahkan kaki kita ke masjid kecuali dengan hidayah dari Allah, hal itu karena tubuh kita terbaring lemah di atas ranjang karena sakit, kita enggan beribadah, merasa berat dan lain-lain.
Maka sekali lagi kita ucapkan “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin”.
Yang kedua adalah nikmat kesempatan, berapa banyak orang sibuk bekerja sehingga ia lupa akan kewajibannya untuk melaksanakan ibadah.
Tidak sempat menunaikan sholat kecuali disisa waktunya, maksudnya adalah sholat di akhir waktu padahal sholat yang sebentar itu mampu membuat hidupnya bahagia, namun ia tidak menyadari itu. Dan ia lebih mengutamakan pekerjaannya daripada sholatnya.
Jadi betapa penting kesempatan ini untuk kita manfaatkan dalam hal beribadah kepada Allah SWT. Sebagaimana tujuan kita diciptakan di dunia ini, yaitu “wamaa kholaqtul jinna wal insa illa liya’buduun” Artinya : “Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaku”. (Qs. Adz Dzariat: 56)
Sholawat serta salam semoga tercurah limpahkan kepada Rasulullah kita Muhammad SAW, beliau adalah suri tauladan bagi umat Islam, beliau adalah uswatun hasanah bagi orang-orang yang beriman.
Maka sudah sepantasnya kita mengikuti jejak beliau, mengamalkan apa saja yang diajarkan oleh beliau melalui risalah-Nya yakni Ad Dinul Islam.
Marilah kita meningkatkan taqwa kita kepada Allah SWT dengan taqwa yang sebenarnya, yaitu menjalankan segala bentuk perintah Allah dan meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.
Sebab puncak tertinggi dari seorang manusia adalah taqwa.
“Inna aqromakum indallahi athqoqum” yang artinya : “Sesungguhnya orang yang paling mulia disisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa,” Bukan mereka yang mempunyai banyak harta dan bukan pula mereka orang yang mempunyai jabatan dan pangkat, tetapi orang yang paling mulia ialah orang yang bertaqwa.
Ada dua hal yang saling berseberangan. Yaitu hak dan kewajiban, apa itu hak? Hak ialah sesuatu yang kita dapatkan, sedangkan kewajiban adalah sesuatu yang harus kita tunaikan dan kita kerjakan.
Maka dikatakan bahwa ada orang yang tidak pernah memikirkan haknya namun ia melakukan apa yang menjadi kewajibannya, kita sebut orang ini adalah orang yang bijaksana.
Kedua, ada orang yang menunaikan kewajibannya kemudian mengambil apa yang menjadi haknya, kita sebut dia adalah orang yang adil.
Dan ada orang yang hanya mengambil haknya namun dia lupa menunaikan kewajibannya, maka kita sebut orang ini tidak tau diri.
Merujuk pada hadits di atas saya ingin menyampaikan tentang hak dan kewajiban kita antar sesama muslim.
حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ
Haqqul muslim ‘ala muslim sittun, artinya: hak seorang muslim kepada muslim yang lainnya ada enam,
إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ
Pertama “idzalaqiytahu fasallim ‘alaihi”
Apabila engkau bertemu dengan nya ucapkanlah salam.
Di dalam ucapan salam itu terkandung sebuah doa. Yaitu doa supaya diberikan kesejahteraan dan keselamatan bagi orang yang mengucapkan salam maupun yang menjawab salam.
Kita saling mendoakan dengan sesama saudara kita seiman.
وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ
Kedua “waidza da’aka fa ajibhu”. Apabila ia mengundangmu maka penuhilah undangannya.
Tetangga kita maupun saudara kita akan merasa senang dengan kedatangan kita sebab ia merasa dihargai dan diperhatikan dengan adanya undangan tersebut.
Jangan sampai kita menghiraukannya minimal jika memang kita ada urusan lain maka kita sampaikan dengan baik.
وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ
Ketiga “waidzastanshohaka fan shohhu” Apabila ia meminta nasihat maka berilah ia nasihat.
Ternyata hak dan kewajiban itu bukan hanya tentang harta.
Misal di dalam harta orang kaya itu terdapat haknya orang miskin yang dikeluarkan dalam bentuk zakat, infaq, dll.
Bukan hanya itu, Tetapi hak dan kewajiban itu juga ada diantara sesama muslim dalam bentuk nasihat.
Saudara kita punya kewajiban untuk memberikan nasihat jika kita lalai, dan saudara kita punya hak untuk kita berikan nasihat.
وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ
Keempat yaitu “waidza ‘athosa fahamidallahu fasammithu”
Apabila ia bersin maka doakanlah.
Apabila ia bersin lalu mengucapkan ”Alhamdulillah” Maka doakan dengan “yarhamukallah” Ini menjadi kewajiban bagi kita yaitu mendoakan seseorang yang ketika bersin dengan ucapan doa Yarhamukallah, syaratnya adalah ketika seseorang itu bersin dan kemudian bertahmid atau mengucapkan alhamdulillah.
وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ
Kelima “waidza ma ridho faudhu”, Apabila ia sakit maka jenguklah.
Saudara kita punya hak untuk kita menjenguknya ketika ia sakit.
Sampaikan motivasi dan semangat agar optimis untuk kembali sehat.
Dengan harapan saudara kita akan merasa senang dengan kedatangan kita, apalagi kemudian sebelum kita berpamitan kita mendoakannya. Jadi akan tumbuh perasaan gembira, bahagia, dan semangat persaudaraan menjadi harmonis.
وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ
Keenam “waidza maata fattabi’hu”, Apabila ia mati antarkan jenazahnya.
Dalam pengertian ini adalah bukan hanya mengantar saja, akan tetapi kita ikut merawatnya. Mulai dari mensucikan, mengkafani, mensholatkan dan terakhir adalah menguburkannya.
Dari sahabat Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa mengiringi jenazah muslim karena iman dan mengharapkan balasan (pahala) dan dia selalu bersama jenazah tersebut sampai disalatkan dan selesai dari penguburannya, maka dia pulang dengan membawa dua qirath. Setiap qirath setara dengan gunung Uhud. Dan barangsiapa menyalatkannya dan pulang sebelum dikuburkan, maka dia pulang membawa satu qirath.” (HR. Bukhari no. 47)
Oleh karena itu, mari kita perhatikan dan pahami apa sih yang menjadi kewajiban kita, segerakan, tunaikan dan ambil sekedarnya apa yang telah menjadi hak kita.
Semua itu akan diperhitungkan oleh Allah di akhirat kelak.
Jangan sampai kita ini menjadi orang yang tidak tahu diri bahkan mendzolimi siapapun. Baik diri sendiri maupun orang lain.***
Editor : Sultan Achmad